Sumbawa, Radardemokrasi.com – Male’ di Sumbawa bukan sekadar hiasan Maulid. Ia menjadi penanda bahwa tradisi lama masih punya tempat, meski zaman gemar menggantinya dengan yang serba praktis.
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Sumbawa kembali menemukan ruang untuk bernapas. Bukan hanya lewat doa dan perayaan munit, tetapi melalui keterampilan membuat male’, kerajinan tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Sumbawa menggelar Pelatihan Membuat Male’ di Aula Ai Mata Jitu SMK Negeri 1 Sumbawa, Selasa (15/9/2026). Kegiatan itu dibuka Ketua GOW Kabupaten Sumbawa, Dra. H. Sudarti Mohamad Ansori.
Pesertanya bukan hanya pengurus dan anggota GOW. Organisasi perempuan lain serta guru muatan lokal dari sekolah negeri dan swasta ikut hadir. Wakil Ketua LATS Kabupaten Sumbawa, H. Hasanuddin HD, S.Pd., menjadi narasumber.
Bagi Ketua GOW, male’ bukan ornamen yang muncul ketika kalender mendekati Maulid, lalu disimpan kembali setelah perayaan usai. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan nilai religius dan estetika lokal.
“Perayaan Maulid Nabi atau munit di Sumbawa tidak dapat dipisahkan dari male’,” ujarnya. Karena itu, keterampilan membuatnya perlu dirawat agar tidak sekadar menjadi kenangan yang hanya disebut dalam pidato kebudayaan.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemampuan merangkai dan membuat male’.
Peserta didorong mengembangkan kreativitas serta nilai estetika, sembari memperkuat kebersamaan dan pemberdayaan masyarakat.
Ada pesan yang lebih panjang dari sekadar pelatihan sehari. Ketika generasi muda semakin akrab dengan budaya serba cepat, tradisi lokal membutuhkan pewaris, bukan hanya penonton.
“Budaya akan punah bukan karena direbut bangsa lain, tetapi karena dilupakan oleh pemiliknya sendiri,” kata Ketua GOW.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pekerjaan rumah. Merawat tradisi tidak cukup dengan seremoni, foto bersama, lalu unggahan media sosial. Ia membutuhkan keterampilan yang diajarkan, dipraktikkan, dan diteruskan.
Di Sumbawa, Maulid menjadi salah satu panggung penting bagi perjumpaan agama dan budaya.
Male’ berdiri di antaranya: bukan sekadar benda kerajinan, melainkan jejak identitas yang ikut menghias ingatan kolektif masyarakat.
Sebab, tradisi yang hanya disimpan di lemari mudah menjadi benda bisu. Tradisi yang terus dipraktikkan punya kesempatan lebih besar untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat Sumbawa.
Pelatihan GOW menjadi semacam alarm kecil. Bahwa warisan budaya tidak otomatis selamat hanya karena pernah hidup lama. Ia harus terus dibuat agar tetap dikenal, dipakai, dan diceritakan kepada anak cucu.


Komentar