Daerah
Beranda / Daerah / Konservasi Sumbawa: Laut Dijaga, Warga Sejahtera

Konservasi Sumbawa: Laut Dijaga, Warga Sejahtera

The Regional Exchange (Foto: SB)
The Regional Exchange (Foto: SB)

Sumbawa, Radardemokrasi.com – Konservasi Sumbawa kembali menjadi perhatian ketika Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, menghadiri The Regional Exchange di Aula Sumbawa Grand Hotel, Selasa, 15 September 2026.

Forum itu mempertemukan pemerintah, masyarakat, lembaga konservasi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari Indonesia serta Timor-Leste.

Temanya sederhana, tetapi pekerjaannya tidak: bagaimana laut tetap hidup sementara manusia yang tinggal di sekitarnya juga harus tetap hidup.

Mohamad Ansori menyambut Sumbawa sebagai tuan rumah. Ia menyebut forum tersebut sebagai ruang bertukar pengalaman dalam mengelola sumber daya pesisir dan laut berbasis masyarakat.

Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, menjadi salah satu contoh.

Subuh di Lempeh, Ansori Ajak Warga Makmurkan Masjid

Wilayah itu disebut telah menjadi rujukan pembelajaran konservasi dan wisata berbasis masyarakat. Di sana, menjaga ekosistem laut berjalan beriringan dengan usaha memenuhi kebutuhan keluarga.

Pendampingan Yayasan Konservasi Indonesia ikut disebut sebagai bagian dari perjalanan tersebut.

Masyarakat tidak hanya diajak memahami pentingnya lingkungan, tetapi juga diperkuat dalam mengelola wisata.

Di atas kertas, Teluk Saleh punya modal besar. Luasnya sekitar 1.459 kilometer persegi dan kawasan itu menjadi habitat penting hiu paus.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan Teluk Saleh berperan sebagai kawasan pembesaran satwa tersebut.

Peran Perempuan, Dua Sayap Menjaga Keluarga

Kekayaan itu bukan sekadar milik Sumbawa. Kawasan SAMOTA-Saleh, Moyo, dan Tambora-telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia UNESCO pada 2019.

Namun konservasi punya pekerjaan rumah. Wisatawan yang datang harus sebanding dengan kemampuan alam menerima kunjungan. Interaksi dengan hiu paus pun mesti mengikuti aturan: jarak aman, tidak menyentuh satwa, serta pengaturan jumlah kapal dan wisatawan.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong pemerintah desa, kelompok masyarakat, pelaku usaha, sektor pariwisata, dan lembaga konservasi berjalan dalam satu irama.

Sebab, menurut Mohamad Ansori, masyarakat adalah ujung tombak.

Kebijakan dan pelatihan akan kehilangan tenaga jika warga di lapangan tidak merasa memiliki.

Male’ Dirawat, Munit Sumbawa Tak Sekadar Hiasan

The Regional Exchange kemudian menjadi ruang berbagi pengalaman konservasi antara Indonesia dan Timor-Leste. Harapannya, laut tetap menjadi rumah bagi satwa, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi manusia yang menjaganya.

Konservasi akhirnya bukan sekadar menjaga laut, tetapi memastikan masyarakat ikut sejahtera bersama alam yang lestari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *