DOMPU, Radardemokrasi.com – Sebuah karya yang telah lama dinantikan akhirnya hadir untuk masyarakat Dompu. Kamus Bahasa Dompu karya Dahlan Yakub Al Barry bukan sekadar buku referensi, tetapi menjadi simbol penting dalam menjaga jati diri, sejarah, dan warisan budaya daerah.
Narasi ini disampaikan oleh Muhammad Ruslan, yang akrab disapa “Dae Olan”, putra mendiang Bupati Dompu H. Yakub MT.
Ia menegaskan bahwa kehadiran kamus ini menjadi “jalan pulang” bagi masyarakat untuk kembali mengenali akar identitasnya.
Menurut Dae Olan, bahasa bukan hanya sekumpulan kata, melainkan cerminan siapa kita, dari mana kita berasal, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di dalam Bahasa Dompu, tersimpan napas sejarah, hidupnya budaya, dan terjaganya martabat masyarakat.
“Sering kali kita sibuk mencari jati diri ke luar, padahal jawabannya ada dalam bahasa kita sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan bahwa proses lahirnya buku ini tidak mudah.
Dibaliknya terdapat perjuangan panjang dan harapan besar agar kamus ini tidak hanya menjadi koleksi di rak, tetapi benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, Dae Olan berharap Kamus Bahasa Dompu dapat masuk sebagai bagian dari pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Dompu.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga memahami akar budaya dan identitasnya.
“Kita ingin anak-anak Dompu tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga tahu siapa dirinya,” tambahnya.
Kehadiran kamus ini menjadi pengingat bahwa masa depan yang kuat selalu berangkat dari identitas yang dikenali dan dijaga.
Kini, pertanyaan penting pun muncul. Apakah masyarakat siap merawat dan melestarikannya?
Dengan semangat tersebut, Kamus Bahasa Dompu diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.


Komentar