Radardemokrasi.com – Eskalasi konflik antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan memasuki fase diplomasi yang tegang hari ini, Senin (27/4/2026).
Di tengah ancaman kegagalan gencatan senjata, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan telah tiba di Saint Petersburg untuk melakukan pertemuan mendadak dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Pertemuan ini menjadi sorotan dunia internasional setelah negosiasi perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad mengalami jalan buntu.
Presiden AS, Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan pengiriman utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan akhir pekan lalu.
Situasi di lapangan menunjukkan kondisi “blokade ganda” yang mencekik arus logistik dunia.
Berdasarkan laporan The Guardian dan sumber intelijen regional, Iran menawarkan untuk mengakhiri penutupan Selat Hormuz, namun dengan syarat ketat. AS harus mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Hingga saat ini, Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia masih dalam kondisi tidak menentu.
Angkatan Laut AS dilaporkan telah menyita satu kapal kargo Iran di Samudra Hindia tiga hari lalu, yang oleh Teheran disebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara.
Sementara itu dari Yerusalem, militer Israel (IDF) dilaporkan terus memperkuat posisinya di Lebanon Selatan dan Suriah melalui operasi yang dijuluki “Operation Eternal Darkness”.
Meski AS dan Iran sempat menyepakati jeda serangan pada awal April, Israel menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku bagi front Lebanon.
“Para pemimpin Israel tampaknya telah menyimpulkan bahwa mereka berada dalam perang abadi melawan musuh yang harus diintimidasi secara permanen,” ujar Nathan Brown, pengamat dari Carnegie Endowment for International Peace, mengutip laporan Reuters.
Data terbaru menunjukkan skala kehancuran yang masif sejak perang meletus pada 28 Februari 2026. Iran diperkirakan kehilangan lebih dari 6.000 personel militer dan menderita kerugian ekonomi langsung sebesar USD 145 miliar.
Israel Mencatat kerugian ekonomi sekitar USD 11,5 miliar dengan puluhan warga sipil tewas akibat serangan rudal balasan Iran.
Harga minyak tetap fluktuatif meskipun IEA telah melepas cadangan darurat sebanyak 400 juta barel untuk menstabilkan pasar.
Di Washington, Presiden Trump memberikan pernyataan singkat yang mengisyaratkan ketidaksabarannya terhadap kepemimpinan di Teheran.
Ia menyatakan bahwa diskusi damai bisa saja dilakukan “hanya melalui telepon” jika Iran benar-benar serius untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya.
Namun, Kepala Organisasi Energi Atom Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima batasan apa pun pada hak pengayaan nuklir mereka, yang menjadi batu sandungan utama dalam draf perdamaian 10 poin yang diajukan Pakistan.
Hingga berita ini diturunkan, dunia masih menanti hasil pertemuan Araghchi dan Putin di Rusia, yang diharapkan dapat menjadi penengah baru untuk mencegah perang terbuka skala penuh yang lebih luas di Asia Barat.


Komentar