Radardemokrasi.com – Suasana sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat di Capitol Hill berubah menjadi ricuh setelah sejumlah aktivis anti-perang melakukan aksi protes di tengah pemaparan Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Pete Hegseth, pada Kamis (30/4/2026).
Insiden ini terjadi saat Hegseth tengah memberikan kesaksian mengenai anggaran pertahanan dan strategi militer AS dalam perang melawan Iran.
Berdasarkan laporan The Guardian dan rekaman dari kelompok aktivis Code Pink, seorang pengunjuk rasa tiba-tiba berteriak memotong pernyataan pembukaan Hegseth.
Aktivis tersebut meneriakkan tuduhan keras, menyebut sang menteri sebagai “penjahat perang” dan menyatakan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan keterlibatan dalam konflik tersebut.
Ketegangan memuncak saat petugas keamanan Capitol segera mengamankan aktivis yang membawa spanduk bertuliskan “No War on Iran”.
Saat digiring keluar dalam keadaan terborgol, pengunjuk rasa tersebut kembali berteriak, “Saya ditangkap karena menentang perang di Iran. Kami tidak ingin berperang demi Israel dan kami tidak ingin melakukan kejahatan perang”.
Ketua Komite, Senator Roger Wicker, sempat menghentikan persidangan sejenak untuk memulihkan ketertiban.
“Kami menghargai hak Amandemen Pertama bagi warga negara untuk berekspresi, namun gangguan terhadap sidang ini tidak akan ditoleransi,” tegas Wicker sebelum mempersilakan Hegseth melanjutkan laporannya.
Selain gangguan dari aktivis, Pete Hegseth juga menghadapi serangan tajam dari anggota parlemen Partai Demokrat dalam sidang tersebut.
Senator Jack Reed dari kubu Demokrat menuding bahwa perang yang dikomandoi Hegseth dan Presiden Donald Trump telah menempatkan AS pada posisi strategis yang lebih buruk dengan tertutupnya Selat Hormuz.
Anggota parlemen John Garamendi menuduh Hegseth telah membohongi rakyat Amerika mengenai alasan asli di balik konflik dengan Iran sejak hari pertama.
Meskipun fasilitas nuklir Iran diklaim telah hancur dalam serangan koalisi, kubu Demokrat menyentil bahwa Iran tetap memiliki ribuan rudal dan ambisi nuklir yang belum padam, yang berarti perang hanya mengembalikan kondisi ke titik awal.
Lonjakan harga bensin dan biaya hidup warga AS akibat ketegangan di Teluk Persia menjadi sorotan utama dalam cecaran parlemen terhadap kebijakan Pentagon.
Menanggapi rentetan kritik tersebut, Hegseth bersikap defensif dan balik menuding bahwa kritik anggota parlemen lebih didasari oleh kebencian pribadi terhadap Presiden Trump ketimbang fakta di lapangan.
Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Iran tetap menjadi ancaman nyata yang menjustifikasi tindakan keras AS di kawasan tersebut.
Insiden ini mencerminkan dalamnya pembelahan politik dan meningkatnya kemarahan publik di Amerika Serikat seiring dengan berlanjutnya perang di Timur Tengah yang telah menelan korban jiwa personel militer AS dan membebani ekonomi global.


Komentar