Opini Redaksi
Beranda / Opini Redaksi / SDN 1 Dompu: Sekolah Favorit, Buli Adik Kelas Menganga

SDN 1 Dompu: Sekolah Favorit, Buli Adik Kelas Menganga

Ilustrasi perundungan siswa (Foto: AI)
Ilustrasi perundungan siswa (Foto: AI)

Dompu,  Radardemokrasi.com – SDN 1 Dompu sedang tidak baik-baik saja. Di sekolah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit dan kebanggaan banyak orang tua di Kota Dompu, dugaan perundungan kembali menganga di depan mata.

Kali ini bukan cerita yang berdiri sendiri. Sekitar tiga bulan lalu, kejadian serupa disebut pernah terjadi di sekolah tersebut. Lalu pada minggu ini, dugaan perundungan kembali muncul dengan perlakuan yang disebut jauh lebih memprihatinkan.

Temuan terakhir menjadi yang paling mengusik. Sekelompok siswa kelas atas diduga memperlakukan seorang adik kelas secara tidak wajar. Anak itu didorong, ditendang, bahkan kepalanya ditinju. Aksi tersebut disebut berlangsung bersama teriakan, tawa, dan ucapan yang tak pantas keluar dari mulut seorang anak sekolah dasar.

Yang membuat persoalan ini terasa lebih getir bukan sekadar tindakan fisiknya. Ada kerumunan. Ada tawa. Ada keberanian mempermalukan anak lain. Dan yang lebih penting, semuanya disebut terjadi di lingkungan sekolah.

Ini bukan lagi cerita tentang anak-anak yang bertengkar. Bukan pula perkara face to face yang selesai setelah kedua pihak saling meminta maaf. Jika benar terjadi tindakan berulang yang melibatkan siswa lebih besar terhadap adik kelas, masalahnya memiliki wajah lain: perundungan.

Pj Sekda Dompu dan Risiko Cacat Hukum Jelang 7 Oktober

Jarak waktu sekitar tiga bulan antara kejadian sebelumnya dan kejadian minggu ini justru menimbulkan pertanyaan yang lebih serius. Jika sebelumnya pernah terjadi persoalan serupa, lalu kini muncul lagi, apakah langkah pencegahan yang dilakukan sekolah sudah cukup?
Pertanyaan itu bukan tuduhan.

Tetapi sekolah favorit tidak boleh kebal dari pertanyaan.

Orang tua korban tentu tidak sedang mencari panggung. Mereka melihat anaknya pulang membawa cerita tentang perlakuan yang mungkin meninggalkan luka lebih panjang daripada bekas pukulan.

Rasa sakitnya bukan hanya pada tubuh. Harga diri seorang anak juga bisa ikut remuk ketika ia diteriaki, ditertawakan, dan dipermalukan di hadapan teman-temannya.

Tetapi orang tua juga tidak bisa sembarangan mengambil tindakan sendiri. Ketika emosi dibalas dengan emosi, masalah sekolah dapat berubah menjadi persoalan antarkeluarga. Karena itu, justru sekolah yang harus berdiri paling depan.

Tito Bilang Tes, DPR Bilang Tidak: PPPK Menunggu Kepastian

Kepala SD Negeri 01 Dompu, Suriansyah, S.Pd, dalam persoalan ini berada pada posisi penting sebagai penanggung jawab satuan pendidikan. Sekolah tersebut merupakan lingkungan tempat kejadian berlangsung, bukan jalan umum atau tempat anak-anak bertemu secara kebetulan di luar pagar sekolah.

Maka tanggung jawab tidak berhenti pada kalimat bahwa anak-anak sedang belajar menjadi dewasa. Sekolah juga harus memastikan proses belajar itu tidak berubah menjadi arena senioritas.

Guru, wali kelas, dan kepala sekolah mempunyai ruang untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani tindakan yang merendahkan atau menyakiti siswa.

Pertanyaan redaksi sekarang justru lebih besar: apakah dugaan perundungan itu tidak diketahui pihak sekolah, atau ada pengawasan yang belum bekerja sebagaimana mestinya?

Tidak ada alasan untuk buru-buru menyimpulkan pembiaran. Tetapi ketika kejadian serupa pernah muncul sekitar tiga bulan sebelumnya dan kembali terjadi minggu ini, pertanyaan tentang pengawasan menjadi sah diajukan.

Jabatan, Proyek dan Janji Politik: Siapa Koki di Dompu?

Apalagi sekolah bukan sekadar bangunan tempat anak-anak menghafal pelajaran. Sekolah adalah ruang aman. Ketika seorang anak justru merasa takut terhadap kakak kelasnya di dalam lingkungan sekolah, maka ada sesuatu yang patut diperiksa.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Dompu seharusnya tidak menunggu persoalan ini menjadi lebih besar.

Evaluasi mendalam perlu dilakukan, mulai dari mekanisme pengawasan guru, wali kelas, penanganan laporan siswa, hingga tanggung jawab kepala sekolah.

Bila perlu, evaluasi jangan berhenti pada kepala sekolah. Guru dan wali kelas masing-masing juga patut dilihat: bagaimana mereka mengawasi siswa, bagaimana mereka mengetahui perubahan perilaku anak, dan bagaimana mereka merespons ketika terjadi tindakan yang mengarah pada perundungan.

Sebab sekolah favorit tidak boleh hanya unggul di papan nama, prestasi, atau jumlah orang tua yang berebut memasukkan anaknya.

Ukuran sekolah yang baik justru sederhana: anak datang dengan tenang dan pulang tanpa takut dibuli.

Jika benar seorang adik kelas didorong, ditendang, ditinju, diteriaki, dan ditertawakan oleh kakak kelasnya, maka yang sedang diuji bukan cuma keberanian anak-anak itu.

Yang sedang diuji adalah keberanian orang dewasa untuk menghentikannya.

Dan kali ini, jangan sampai semua orang baru bergerak setelah seorang anak menjadi korban berikutnya.

“Di titik inilah persoalannya tidak lagi sekadar tentang siapa yang memukul dan siapa yang menjadi korban. Ada tanggung jawab yang lebih besar: siapa yang memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi?”

“Dugaan itu menganga lebar di depan mata…”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *