Dompu, Radardemokrasi.com – SDN 05 Pekat Menggali Budaya yang Nyaris Punah melalui berbagai permainan tradisional dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan ini bukan hanya menghadirkan kegembiraan bagi siswa dan guru, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan kembali budaya Dompu yang mulai terlupakan.
Setelah upacara selesai, guru dan siswa langsung mengikuti sejumlah permainan. Salah satunya lomba bola oper untuk siswa kelas rendah. Masih mengenakan baju adat, sarung tenun, dan peci, anak-anak melempar bola dengan penuh semangat.
Bola meleset, mereka tertawa. Ada yang jatuh, teman-temannya ikut tertawa. Bahkan ketika guru terkena bola, suasana semakin ramai. Tawa anak-anak dan guru menyatu dalam kegembiraan.
Di balik permainan sederhana itu, ada pesan yang lebih besar. Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya tentang berdiri khidmat saat upacara, tetapi juga membangun kebersamaan sekaligus mengenalkan kembali budaya daerah kepada generasi muda.
Kepala SDN 05 Pekat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, permainan tradisional perlu dihidupkan kembali agar anak-anak tidak hanya mengenal permainan modern, tetapi juga mengetahui warisan budaya daerahnya sendiri.
Salah satu permainan yang ikut diperkenalkan adalah tapa gala, permainan tradisional Dompu yang pernah populer pada era 1980-an hingga 1990-an. Kini, permainan itu semakin jarang dimainkan anak-anak. Jika tidak diperkenalkan kembali, bukan tidak mungkin generasi berikutnya hanya mengenalnya melalui cerita.
Legiand Tirta, guru setempat yang menjadi penyelenggara sekaligus inisiator kegiatan, mengaku senang bisa bernostalgia melalui permainan tersebut. Kegiatan itu mengingatkannya pada masa lalu, ketika permainan tradisional menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
Menurutnya, bukan hanya guru yang terbawa suasana. Penonton dan peserta juga ikut mengingat kembali kenangan lama yang selama ini jarang ditemui.
Ia berharap sekolah-sekolah lain di Kabupaten Dompu dapat meniru kegiatan serupa. Menghidupkan permainan tradisional, katanya, menjadi salah satu cara untuk menjaga budaya daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Apresiasi juga datang dari tim Yayasan Rai Aina Ngantu (RAN) foundation Dompu. Yayasan tersebut mendukung langkah SDN 05 Pekat yang berupaya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak.
Saat ini, Yayasan RAN tengah mempersiapkan buku atau katalog permainan tradisional dan budaya Dompu sebagai bahan literatur bagi generasi mendatang.
Kegiatan di SDN 05 Pekat membuktikan bahwa menjaga budaya tidak harus menunggu acara besar. Halaman sekolah, permainan sederhana, dan tawa anak-anak pun bisa menjadi jalan untuk merawat warisan leluhur.
Sebab, budaya tidak cukup hanya dikenang. Budaya harus dimainkan, diperkenalkan, dan diwariskan. Jika tidak, permainan yang pernah hidup pada masa lalu bisa benar-benar hilang dari ingatan generasi berikutnya.


Komentar