DOMPU, Radardemokrasi.com – Di tengah hamparan biru Laut Flores, pesona Pulau Satonda seolah tak pernah benar-benar pudar. Meski kunjungan wisatawan bersifat musiman, pulau satonda yang dikenal dengan danau air asinnya di tengah daratan ini tetap menjadi magnet bagi turis asing maupun domestik.
Arus kunjungan memang tak selalu ramai di pulau Satonda. Namun denyutnya tak pernah mati. Setiap pekan, selalu ada saja wisatawan yang datang, menikmati keheningan sekaligus keunikan alam Satonda. Hal ini diungkapkan Bombom, pemandu wisata lokal yang setia mengantar tamu menuju pulau tersebut.
“Ya om, setiap Minggu pasti ada satu dua orang yang saya antar. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Bombom singkat.
Dengan menggunakan perahu mini berkapasitas 5 hingga 8 orang, Bombom melayani perjalanan pulang-pergi dari Pantai Labuan Barat, Desa Nangamiro menuju Satonda dengan tarif berkisar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
Setibanya di lokasi, wisatawan hanya dikenakan tiket masuk sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per orang, harga yang relatif murah untuk pengalaman wisata kelas dunia.
Namun di balik pesona yang terus mengundang, terdapat persoalan mendasar yang belum tersentuh secara serius.
Dermaga mini yang dulu menjadi titik sandar dan keberangkatan wisatawan kini tak lagi terlihat. Bangunan sederhana itu telah roboh dihantam ombak dan hingga kini belum diperbaiki.
“Dulu ada dermaga di pinggir Pantai Labuan Barat ini, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” kata Bombom.
Kondisi ini tentu menjadi ironi tersendiri. Di saat Satonda terus menarik perhatian wisatawan, akses dasar justru terabaikan.
Padahal, keberadaan dermaga menjadi elemen vital dalam menunjang keselamatan dan kenyamanan perjalanan wisata.
Berbeda dengan di titik keberangkatan, di dalam kawasan Satonda justru masih tersedia dermaga sederhana yang cukup layak digunakan oleh perahu kecil untuk bersandar.
Meski terbatas, fasilitas ini setidaknya memberi kemudahan bagi wisatawan yang tiba. Terlepas dari segala keterbatasan itu, Satonda tetap menyuguhkan keajaiban yang sulit ditandingi.
Air laut yang jernih, panorama bukit yang mengelilingi pulau, hingga keberadaan danau unik di tengah pulau yang konon terbentuk akibat letusan Gunung Tambora menjadi daya tarik utama yang tak tergantikan.
Satonda bukan sekadar destinasi, tetapi pengalaman. Ia menghadirkan ketenangan, keaslian, dan keindahan yang masih alami. Sebuah surga kecil yang tetap hidup, meski tanpa banyak sentuhan pembangunan.
Kini, yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah Satonda indah karena itu tak terbantahkan. Pertanyaannya adalah, sampai kapan keindahan ini dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan fasilitas yang memadai?


Komentar