Kota Bima, Radardemokrasi.com – HUT ke-81 RI, lomba digelar bukan untuk sekadar mengejar piala. Di balik sorak peserta, pemerintah kota ingin membangun kembali ruang kebersamaan yang kerap tergerus rutinitas birokrasi.
Pembukaan dihadiri Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, S.H., unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, para asisten, staf ahli, kepala perangkat daerah, camat, lurah, hingga pimpinan instansi vertikal.
Kapolres Bima Kota, Dandim 1608/Bima, Kepala KSOP Bima dan jajaran Kejaksaan Negeri Raba Bima turut hadir.
Di hadapan peserta, Wali Kota meminta seluruh aparatur sejenak meninggalkan urusan administrasi.
Surat-menyurat, disposisi dan agenda kedinasan diparkir lebih dulu. Yang dibutuhkan saat itu adalah kegembiraan.
Pesannya sederhana, tetapi mengandung kritik terhadap budaya kerja yang terlalu serius: pemerintah juga membutuhkan ruang untuk tertawa bersama.
HUT ke-81 RI, lomba menjadi panggung kecil untuk mengukur seberapa solid jajaran Pemerintah Kota Bima ketika sekat jabatan dan perangkat daerah dicairkan melalui permainan.
Menurut Wali Kota, kemenangan bukan tujuan utama. Menang hanya bonus. Kekompakan jauh lebih penting karena pemerintahan membutuhkan kerja bersama, bukan sekadar kemampuan individu.
Ia juga mengingatkan peserta agar menjunjung sportivitas. Kekalahan, kata dia, tidak boleh berubah menjadi alasan untuk kehilangan semangat persaudaraan. Peserta diminta menikmati setiap perlombaan dengan gembira.
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah. Peserta dari berbagai perangkat daerah dan unsur pemerintahan menunjukkan antusiasme. Lomba menjadi jeda dari rutinitas sekaligus ruang mempertemukan aparatur dalam suasana yang lebih cair.
Pada penghujung acara, anak-anak TK Yakarim Kota Bima bersama orang tua membentangkan bendera Merah Putih. Simbol itu menutup kegiatan dengan pesan yang lebih besar: kemerdekaan bukan hanya perayaan, tetapi juga tentang merawat kebersamaan.
HUT ke-81 RI, lomba akhirnya menyisakan satu pertanyaan penting: setelah sorak dan tawa usai, mampukah semangat kebersamaan itu dibawa kembali ke meja kerja dan pelayanan publik?
Sebab, ujian sesungguhnya bukan memenangkan perlombaan.
Ujian sebenarnya adalah menjaga kekompakan ketika kembali berhadapan dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat.
Para ASN mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Suasana lomba terasa meriah, penuh tawa, kebersamaan, dan membuat hubungan antarsesama aparatur semakin akrab.


Komentar