Dompu, Radardemomrasi.com – Mereka jual sampah, bangun sekolah, kirim siswa ke Malaysia. Kalimat itu terdengar seperti cerita yang sulit dipercaya. Namun, di sebuah sudut Kabupaten Dompu, kisah tersebut tumbuh menjadi kenyataan.
Pagi tadi, wartawan media online Radardemokrasi.com berkesempatan menjadi tamu edukasi di SMK Kreatif We Save Dompu. Di hadapan para pelajar, wartawan berbagi cerita tentang dunia jurnalistik, pengalaman ketika berada di lapangan, serta bagaimana melihat sebuah peristiwa bukan hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Tetapi dari ruang belajar sederhana itu, justru muncul cerita tentang perjuangan yang jauh lebih menarik.
SMK Kreatif We Save Dompu dibangun dari jerih payah dan keringat perkumpulan anak muda Dompu yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Modal awalnya bukan gedung megah atau fasilitas berlimpah.
Mereka mengumpulkan sampah plastik.
Sampah tersebut kemudian dijual.
Hasilnya digunakan sedikit demi sedikit untuk membeli bahan bangunan. Pembangunan dilakukan secara gotong royong. Guru, anak muda dan masyarakat ikut mengambil bagian, bahkan turun langsung membantu para tukang.
Seorang guru setempat menceritakan perjuangan tersebut.
“Kami kumpulkan sampah, kami jual. Bahan bangunan kami beli secara mencicil. Kami juga gotong royong menjadi buruh membantu tukang yang bekerja,” katanya.
Pagi, siang hingga malam mereka bekerja. Perlahan, berdirilah pondok untuk siswa, ruang kantor, kantin dan masjid sebagai fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar.
Yang menarik, sekolah ini tidak sekadar menawarkan pembelajaran di dalam kelas. Lingkungan sekolah dirancang dengan nuansa alam. Ada laboratorium kehidupan berupa peternakan ikan, kambing, ayam, bebek hingga lahan perkebunan.
Guru dan siswa ikut membangun serta merawatnya.
Bangunannya memang masih sederhana. Tetapi dari tempat sederhana itu, pendidikan justru menemukan bentuk lain: belajar bekerja, belajar bertanggung jawab, belajar memanfaatkan sesuatu yang dianggap tidak bernilai dan belajar bermimpi lebih jauh.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah ini telah mengantarkan sejumlah anak didiknya menjadi mahasiswa di Malaysia melalui jalur seleksi beasiswa.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari edukasi bagi para pelajar pagi tadi. Mereka tidak hanya mendengar teori tentang pendidikan dan masa depan, tetapi melihat contoh nyata bahwa keterbatasan bukan selalu alasan untuk berhenti.
Di sekolah ini, sampah pernah menjadi modal pembangunan. Gotong royong menjadi tenaga. Dan mimpi menjadi tujuan.
Dari tangan yang mengumpulkan sampah, lahir ruang belajar. Dari ruang belajar sederhana itu, sejumlah anak kemudian berani melangkah lebih jauh, bahkan sampai ke Malaysia.


Komentar