Sekolah bukan lapak politik. Dunia pendidikan mestinya menjadi ruang paling suci dalam membangun masa depan daerah. Tetapi hari-hari ini, aroma yang tercium di Dompu justru bukan semangat mencerdaskan anak bangsa, melainkan bau transaksi pengaruh dan permainan kepentingan Tim sukses Iqbal, Dinda yang mulai menyusup ke kursi Kepala Sekolah SMA dan SMK.
Isu mutasi gelombang berikutnya di lingkup Dikbud NTB kini bergerak liar. Nama-nama mulai disebut. Bisik-bisik mulai beredar dari warung kopi hingga ruang guru. Yang paling mengkhawatirkan, muncul dugaan adanya oknum tim sukses Gubernur Iqbal-Dinda yang mulai “gentayangan” di Dompu membawa harapan-harapan palsu kepada calon tertentu padahal sekolah bukan lapak politik.
Mereka diduga bergerak senyap. Entah mendapat akses dari mana, entah bermain atas nama siapa. Tetapi pola yang berkembang mulai terbaca: mendekati guru-guru tertentu, meniupkan angin surga, lalu menjanjikan kursi empuk kepala sekolah.
Yang membuat gaduh, di balik lapak politik yang mereka jajakan, beberapa nama yang berhembus justru datang dari kalangan PPPK penuh waktu yang baru seumur jagung mengabdi. Belum matang memahami kultur pendidikan, belum teruji dalam manajemen sekolah, tetapi sudah digiring masuk dalam pusaran perebutan jabatan strategis pendidikan.
Ini yang memantik kemarahan para senior. Guru-guru PNS yang puluhan tahun mengabdi, yang memahami denyut pendidikan dari bawah, yang berdarah-darah membangun sekolah di pelosok, mulai merasa dipinggirkan.
Mereka melihat ada pola yang tidak sehat. Ada kesan jabatan kepala sekolah hendak dijadikan hadiah politik, bukan amanah profesional. Padahal kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif.
Kepala sekolah adalah nahkoda masa depan generasi. Ia harus punya kapasitas, integritas, disiplin, wawasan, dan akal sehat. Dunia pendidikan tidak boleh dipimpin oleh orang yang mentalnya masih sibuk berdagang pengaruh atau bermain proyek kekuasaan.
Lebih ironis lagi, mulai terdengar cerita-cerita miring tentang calon-calon tertentu yang bahkan kedisiplinannya dipertanyakan. Ada yang disebut hanya datang absen di gerbang sekolah lalu pulang entah ke mana. Ada yang baru “lahir dari rahim pendidikan” tetapi sudah tancap gas ingin menjadi kepala sekolah.
Ini bukan lucu. Ini edan. Jika benar ada eks kepala sekolah nonjob yang kini mulai bermain mata dengan oknum tim sukses demi menggeser pejabat sementara kepsek melalui jalur kedekatan politik, maka dunia pendidikan NTB sedang berada di persimpangan yang memalukan.
Sekolah tidak boleh menjadi pasar balas jasa politik. Mutasi kepala sekolah tidak boleh dijalankan dengan logika tim sukses. Sebab ketika jabatan pendidikan dibagi berdasarkan kedekatan, maka yang hancur bukan hanya birokrasi, tetapi masa depan anak-anak daerah.
Pemerintah Provinsi NTB harus sadar bahwa masyarakat sedang mengawasi. Guru-guru sedang melihat. Orang tua murid sedang menilai.
Jangan sampai sekolah kehilangan marwah hanya karena segelintir orang merasa punya kuasa setelah Pilkada usai.
Kalau pendidikan sudah dipimpin oleh kepentingan, maka jangan heran bila sekolah nantinya hanya melahirkan generasi bingung: guru kehilangan hormat, siswa kehilangan teladan, dan dunia pendidikan kehilangan arah.
Dompu tidak butuh kepala sekolah titipan. Dompu butuh pemimpin pendidikan yang benar-benar lahir dari integritas, pengalaman, disiplin, dan kecintaan terhadap dunia belajar.
Sebab sekolah bukan kandang politik. Dan kepala sekolah bukan hadiah untuk tim sukses. [M. Aulia]


Komentar