SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budaya Daerah
Beranda / Daerah / Dari Tanah Rencong ke Bumi Nggahi Rawi Pahu: Tari Saman Menggema di Huu, Menyulam Jejak Sejarah Aceh–Dompu

Dari Tanah Rencong ke Bumi Nggahi Rawi Pahu: Tari Saman Menggema di Huu, Menyulam Jejak Sejarah Aceh–Dompu

Tari Saman (Foto Iradat)
Tari Saman (Foto Iradat)

DOMPU, Radardemokrasi.com – Nuansa khidmat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kecamatan Huu, Senin pagi, berubah menjadi panggung kebudayaan yang menggugah.

Penampilan Tari Saman Aceh yang dibawakan oleh pelajar Dompu sukses menyita perhatian, bukan hanya karena kekompakan gerak dan irama, tetapi juga karena pesan sejarah yang tersirat di balik persembahan tersebut.

Di bawah langit Huu, tepukan ritmis dan lantunan syair khas Saman seakan menjembatani dua wilayah yang terpisah jarak, namun memiliki kedekatan dalam jejak sejarah.

Aceh dan Dompu, menurut sejumlah catatan, pernah terhubung dalam satu garis genealogi peradaban Islam pada masa kejayaan kekhalifahan Utsmaniyah sebelum runtuh pada awal abad ke-20, sekitar 1922–1924.

Kedua kesultanan ini dikenal memiliki kesamaan dalam sistem pemerintahan berbasis nilai-nilai Islam yang kuat.

Megah dan Membara! SMKN 1 Pekat Rayakan 20 Tahun Lewat Panggung Budaya Bergengsi

Prinsip “adat bersendi syara, syara bersendi Kitabullah” menjadi fondasi dalam mengatur kehidupan sosial, budaya, hingga tata kelola pemerintahan.

Nilai itulah yang hari ini kembali dihidupkan melalui seni, dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna.

Iradat, seorang pegiat budaya dan sejarah Dompu, menegaskan bahwa penampilan Tari Saman bukan sekadar hiburan seremonial.

Lebih dari itu, ini adalah bentuk pengingat bahwa hubungan antara Aceh dan Dompu bukan hal baru.

“Ini bukan hanya soal tari. Ini tentang bagaimana generasi muda memahami bahwa Dompu juga pernah berada dalam lingkaran peradaban besar Islam. Ada jejak sejarah yang harus kita rawat, bukan dilupakan,” ujar Iradat.

Kamus Bahasa Dompu Hadir: Jalan Pulang Menjaga Identitas dan Warisan Budaya

Ia juga menekankan bahwa penguatan identitas budaya dan sejarah lokal harus berjalan beriringan dengan pendidikan formal.

Momentum Hardiknas, menurutnya, sangat tepat untuk menghadirkan refleksi semacam ini, bahwa pendidikan tidak hanya soal ruang kelas, tetapi juga tentang mengenali akar sejarah dan jati diri.

Penampilan Tari Saman oleh pelajar Dompu di Huu hari itu pun menjadi simbol kuat.

Bahwa warisan budaya bisa menjadi jembatan lintas daerah, lintas waktu, bahkan lintas peradaban.

Sebuah pesan bahwa di tengah arus modernisasi, nilai-nilai luhur tetap bisa hidup—selama ada generasi yang mau menjaga dan meneruskannya.

Pelabuhan Nusantara Kilo Segera Terwujud, DPRD Dompu: Tonggak Baru Kebanggaan Daerah

Komentar