Jangan datang dengan “otak kosong.” Kalimat itu layak menjadi pesan paling penting dalam pengukuhan dan pembinaan kepala sekolah TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Dompu yang digelar hari ini, 13 Mei 2026, di Gedung Samakai oleh Bupati Bambang Firdaus.
Sebab pelantikan ini berlangsung di tengah kenyataan yang memprihatinkan: tingkat kepuasan publik terhadap layanan pendidikan Dompu disebut hanya berada di angka 12 persen. Sebuah angka yang bukan sekadar data statistik, tetapi cermin keras bahwa kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan daerah sedang berada di titik rendah.
Karena itu, pengukuhan kepala sekolah kali ini tidak boleh dimaknai sekadar seremoni birokrasi tahunan. Ini adalah momentum peringatan sekaligus harapan baru bagi masa depan pendidikan Dompu.
Masyarakat tentu tidak ingin kepala sekolah yang dilantik hanya datang membawa mental administrasi dan kepentingan anggaran. Dunia pendidikan Dompu sudah terlalu lama dibayangi berbagai kritik tentang lemahnya kualitas pelayanan, disiplin aparatur, persoalan transparansi anggaran, hingga orientasi birokrasi pendidikan yang dianggap lebih sibuk mengurus Dana BOS dan proyek fisik sekolah dibanding membangun kualitas belajar.
Padahal sekolah bukan kantor proyek.
Sekolah adalah tempat lahirnya masa depan daerah.
Karena itu, kepala sekolah yang hari ini dikukuhkan harus hadir membawa akal sehat, ide, gagasan, inovasi, dan keberanian melakukan perubahan nyata. Pendidikan Dompu membutuhkan pemimpin sekolah yang mampu menciptakan budaya disiplin, memperbaiki kualitas belajar mengajar, membangun transparansi, dan mengembalikan kepercayaan masyarakat yang mulai terkikis.
Jabatan kepala sekolah juga perlu dipahami bukan sebagai hadiah politik atau hadiah tim sukses. Jabatan ini bukan ruang balas jasa kekuasaan. Ini adalah amanah rakyat yang harus dipertanggungjawabkan secara moral dan profesional.
Publik ingin melihat kepala sekolah yang memiliki integritas, bukan sekadar pejabat pendidikan yang sibuk mengejar pencairan anggaran dan proyek pembangunan gedung. Sebab sehebat apa pun bangunan sekolah, pendidikan tetap akan gagal jika dipimpin tanpa visi dan tanggung jawab.
Para kepala sekolah yang dilantik hari ini juga perlu mengingat bahwa mereka telah disumpah untuk serius mengurus pendidikan. Sumpah jabatan bukan formalitas seremonial. Di dalamnya ada tanggung jawab besar terhadap masa depan anak-anak Dompu.
Hari ini masyarakat tidak lagi mudah percaya pada laporan indah di atas kertas. Yang dinilai publik adalah kenyataan di lapangan: apakah guru disiplin, apakah siswa benar-benar belajar dengan baik, apakah pelayanan sekolah membaik, dan apakah anggaran pendidikan digunakan secara jujur dan tepat sasaran.
Karena ketika kepuasan publik terhadap layanan pendidikan hanya berada di angka 12 persen, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya citra pemerintah daerah, tetapi masa depan generasi Dompu itu sendiri.
Pelantikan hari ini seharusnya menjadi awal perubahan. Bukan sekadar pergantian nama pejabat sekolah, tetapi lahirnya kepemimpinan pendidikan yang benar-benar berpihak pada kualitas dan masa depan rakyat. [M. Aulia]


Komentar