Daerah
Beranda / Daerah / Dompu Surplus Pertanian, Mengapa Uang Panen Mengalir Keluar?

Dompu Surplus Pertanian, Mengapa Uang Panen Mengalir Keluar?

Gabah Dompu (Foto: TR)
Gabah Dompu (Foto: TR)

Dompu, Radardemokrasi.com – Surplus pertanian Dompu menjadi kabar baik bagi ketahanan pangan daerah. Produksi padi dan jagung terus menjadi penopang ekonomi Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Namun, di balik besarnya hasil panen, muncul persoalan lain: pendapatan dari sektor pertanian belum seluruhnya berputar di dalam daerah.

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu, Aris Ansyari, mengungkapkan surplus produksi beras Dompu mencapai 41 persen. Sementara itu, jagung menjadi salah satu komoditas yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Dalam pemberitaan ANTARA pada Selasa, 20 Oktober 2026, Aris menjelaskan bahwa besarnya nilai transaksi hasil pertanian tidak otomatis membuat seluruh uang tersebut beredar kembali di Dompu. Sebagian pendapatan masyarakat justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan di luar daerah.

“Tidak 100 persen nilai penjualan jagung itu kembali ke daerah. Ada yang kemudian terbawa keluar. Padahal, nilai transaksinya tetap dihitung sebagai transaksi di dalam daerah,” ujarnya.

Menurut Aris, pengeluaran tersebut antara lain untuk membiayai pendidikan anak di perguruan tinggi luar daerah, memenuhi kebutuhan rumah tangga, serta berbelanja ketika masyarakat berkunjung ke Kota Bima dan Kota Mataram.

Bupati Sumbawa Kejar Listrik hingga Dusun Terpencil

Persoalan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan produksi pertanian dan besarnya perputaran uang di tingkat daerah merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan beriringan.

Jagung dan Padi Jadi Penopang

Sektor pertanian masih menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Dompu. Data yang disampaikan pemerintah daerah pada Agustus 2026 memperkirakan produksi jagung mencapai 290.026 ton, sedangkan produksi padi mencapai 107.096 ton.

Capaian tersebut memperkuat posisi Dompu sebagai salah satu sentra produksi pangan di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah daerah juga menyalurkan alat dan mesin pertanian untuk membantu petani meningkatkan efisiensi pengolahan lahan dan panen.

Namun, besarnya produksi belum otomatis menjamin seluruh pelaku usaha lokal menikmati manfaat ekonomi secara maksimal. Perputaran pendapatan petani turut ditentukan oleh pola belanja masyarakat, ketersediaan barang dan jasa di daerah, serta kemampuan usaha lokal memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Wabup Sumbawa Turun, Korban Kebakaran Butuh Rumah

Apabila sebagian besar kebutuhan tersebut dipenuhi dari luar Dompu, sebagian pendapatan hasil panen akan ikut mengalir ke daerah lain.

Surplus Harus Menggerakkan Ekonomi Lokal

Persoalan yang diungkapkan Bappeda dan Litbang menjadi tantangan bagi pemerintah daerah. Dompu tidak cukup hanya mempertahankan produksi padi dan jagung, tetapi juga perlu memperkuat hubungan antara sektor pertanian, perdagangan, dan usaha lokal.

Salah satu langkah yang dapat didorong adalah memperluas peluang usaha yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam daerah. Pengembangan usaha pengolahan hasil pertanian, perdagangan sarana produksi, jasa transportasi, hingga industri turunan jagung berpotensi menciptakan nilai tambah apabila didukung pasar dan investasi yang layak.

Penguatan sektor hilir juga penting agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas mentah. Semakin banyak tahapan pengolahan yang dapat dilakukan di Dompu, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja dan aktivitas ekonomi tambahan di daerah.

Pangdam Rinambora Tiba di NTB, Gendang Beleq Menyambut

Tentu, upaya tersebut membutuhkan perencanaan, akses pembiayaan, kepastian pasar, dan keterlibatan pelaku usaha. Pemerintah daerah juga perlu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang selama ini banyak dipenuhi dari luar daerah.

Surplus pertanian Dompu merupakan modal penting. Tantangan berikutnya adalah memastikan kekuatan produksi itu memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani, pedagang, pelaku usaha, dan masyarakat.

Sebab, keberhasilan daerah penghasil pangan bukan hanya terlihat dari banyaknya gabah dan jagung yang dipanen. Manfaatnya juga perlu dirasakan melalui tumbuhnya usaha lokal, terbukanya lapangan kerja, dan semakin kuatnya perputaran ekonomi masyarakat Dompu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *