Mataram, Radardemokrasi.com – Ruang digital bukan lagi sekadar tempat bermain dan mencari informasi. Di balik layar ponsel, ancaman paham radikalisme dapat menyusup melalui media sosial, game online, hingga jejaring komunikasi yang sulit dipantau orang tua.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Kejaksaan Agung dan sejumlah instansi terkait merespons persoalan itu melalui rapat koordinasi di Kantor Kejaksaan Tinggi NTB, Kamis, 13 Agustus 2026. Forum tersebut membahas penguatan pencegahan dan perlindungan generasi muda dari pengaruh ideologi kekerasan di ruang maya.
Data Dinas Sosial P3A Provinsi NTB menjadi alarm keras. Belasan anak berusia 12 hingga 19 tahun disebut telah terpapar paham radikal melalui dunia maya. Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa di antaranya bahkan memiliki kemampuan teknis merakit bahan berbahaya dan melakukan peretasan.
Situasi itu menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk propaganda terbuka. Ia bisa bergerak melalui konten, percakapan, permainan digital, maupun komunitas daring yang perlahan membentuk cara berpikir anak.
Gawai Anak dan Bayang-Bayang Radikalisme Digital di NTB karena itu menuntut strategi yang tidak berhenti pada penindakan.
Pemerintah memperkuat literasi digital melalui Diskominfotik NTB bersama Densus 88. Kolaborasi juga melibatkan Bakesbangpoldagri dan Dikpora, termasuk mendorong aturan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Pencegahan juga menyentuh persoalan ekonomi. Dinas Koperasi dan UMKM NTB telah memberdayakan 1.166 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berbadan hukum. Penguatan ekonomi masyarakat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya membangun lingkungan sosial yang lebih tangguh.
Namun, benteng pertama tetap berada di rumah. Orang tua tidak cukup hanya memberikan ponsel, lalu membiarkan algoritma menentukan tontonan dan pergaulan anak.
Anak perlu didampingi, diajak berdiskusi, dan dibekali kemampuan membedakan informasi, propaganda, serta konten yang berbahaya. Pemerintah, sekolah, aparat, masyarakat, dan keluarga harus bergerak dalam satu barisan.
Sebab, Gawai Anak dan Bayang-Bayang Radikalisme Digital di NTB bukan sekadar persoalan teknologi. Ini pertaruhan tentang bagaimana generasi muda NTB tumbuh, berpikir, dan menentukan masa depan daerahnya.


Komentar