Daerah
Beranda / Daerah / Irigasi Tanju Mulai Mengalir, 14 Hektare Sawah Terlayani

Irigasi Tanju Mulai Mengalir, 14 Hektare Sawah Terlayani

Dam Tanjung Dompu (Foto: KT)
Dam Tanjung Dompu (Foto: KT)

Dompu, Radardemokrasi.com Rehabilitasi jaringan irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Tanju, bagian dari sistem D.I. Rababaka Kompleks di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mulai menunjukkan manfaat bagi petani. Air dari Saluran Induk Tanju Kiri telah mengalir melalui bangunan sadap yang selesai dibangun dan melayani sekitar 14 hektare lahan sawah.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram melalui Satuan Nonvertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (SNVT PJPA) Provinsi NTB. Rehabilitasi dilakukan untuk memulihkan fungsi saluran yang mengalami sedimentasi akibat erosi dan longsoran lereng.

Berdasarkan informasi pelaksanaan pekerjaan, kegiatan mencakup penggalian sedimentasi pada Saluran Induk Tanju Kiri, ruas BTJ.1 hingga BTKr.5, sepanjang sekitar 5,80 kilometer. Selain normalisasi saluran, pekerjaan juga meliputi pembangunan dinding penahan tanah menggunakan pasangan batu dan bronjong, perbaikan saluran, serta penanganan gorong-gorong silang.

Saluran gendong turut dibangun untuk mengarahkan aliran air permukaan menuju bangunan gorong-gorong. Infrastruktur ini diperlukan untuk mengendalikan aliran air sekaligus mengurangi risiko kerusakan saluran akibat erosi dan sedimentasi.

Meski sebagian jaringan sudah dapat dimanfaatkan, penyaluran air ke wilayah hilir belum sepenuhnya selesai. Sejumlah pekerjaan gorong-gorong silang masih berlangsung sehingga penyelesaian jaringan menjadi tahapan penting sebelum layanan irigasi dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Bupati Sumbawa Kejar Listrik hingga Dusun Terpencil

Target Layanan Lebih Luas

Pekerjaan rehabilitasi Tanju Kiri bukan proyek yang berdiri sendiri. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengembangan sistem irigasi Rababaka Kompleks yang menopang kebutuhan air pertanian di Kabupaten Dompu.

Dalam laporan resmi pada 30 Agustus 2026, BBWS Nusa Tenggara I menyebut rehabilitasi pada ruas BTJ.1 hingga BTKr.5 memiliki target pekerjaan sepanjang 6.000 meter atau enam kilometer, dengan sasaran layanan irigasi seluas 336 hektare. Laporan monitoring itu juga menyatakan sebagian jaringan yang telah dibangun mulai dapat dimanfaatkan untuk mengalirkan air melalui bangunan sadap.

Sebelumnya, pada 10 Juni 2026, BBWS Nusa Tenggara I menjelaskan bahwa rehabilitasi dilakukan untuk mengatasi tingginya sedimentasi akibat erosi dan longsoran lereng. Pekerjaan mencakup normalisasi saluran sekitar lima kilometer, perbaikan gorong-gorong silang, pembangunan bangunan sadap, serta pembangunan dinding penahan tanah dan saluran gendong.

Perbedaan angka 14 hektare dan 336 hektare perlu dipahami berdasarkan konteksnya. Angka 14 hektare merujuk pada lahan yang disebut telah menerima layanan air melalui bangunan sadap yang selesai dibangun, sedangkan 336 hektare merupakan sasaran layanan yang disebut dalam laporan monitoring BBWS.

Wabup Sumbawa Turun, Korban Kebakaran Butuh Rumah

Bendungan Ada, Jaringan Harus Tuntas

Bendungan Tanju sendiri telah beroperasi sejak 2018. Berdasarkan data BBWS Nusa Tenggara I, bendungan tersebut memiliki kapasitas tampungan normal sekitar 17,86 juta meter kubik dan dirancang untuk mendukung layanan irigasi seluas 2.250 hektare.

Namun, keberadaan bendungan belum otomatis menjamin air sampai ke seluruh petak sawah. Jaringan distribusi harus berfungsi secara menyeluruh, mulai dari saluran induk hingga bangunan pembagi dan saluran yang mengantarkan air ke lahan petani.

Persoalan ini sebelumnya juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Pada Februari 2025, Sekretariat Daerah Kabupaten Dompu menyampaikan bahwa jaringan irigasi dari Bendungan Tanju yang telah dibangun belum dapat difungsikan sepenuhnya karena pengerjaan salurannya belum tuntas.

Karena itu, rehabilitasi yang kini berjalan menjadi bagian penting untuk mengoptimalkan manfaat infrastruktur air tersebut. Penyelesaian pekerjaan harus memastikan saluran mampu mengalirkan air secara aman dan sesuai kebutuhan layanan irigasi.

Pangdam Rinambora Tiba di NTB, Gendang Beleq Menyambut

Petani Menunggu Manfaat Penuh

Bagi petani, keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari panjang saluran yang diperbaiki atau bangunan yang selesai dikerjakan. Ukuran paling nyata adalah tersedianya air yang dapat digunakan untuk mengolah lahan dan mendukung musim tanam.

Aliran air yang sudah menjangkau sekitar 14 hektare menjadi tahap awal yang patut dicatat. Namun, manfaat yang lebih luas masih bergantung pada penyelesaian pekerjaan di bagian hilir dan kesiapan seluruh jaringan pendukung.

BBWS Nusa Tenggara I menyatakan berkomitmen menuntaskan pekerjaan agar layanan irigasi dapat dirasakan secara optimal oleh petani di kawasan tersebut.

Penyelesaian jaringan Tanju Kiri diharapkan memperkuat produktivitas pertanian Dompu, mengurangi ketergantungan petani terhadap hujan, serta mendukung ketahanan pangan daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan air dari Bendungan Tanju benar-benar sampai ke lahan yang menjadi sasaran layanan.

Sebab, keberhasilan pembangunan irigasi pada akhirnya bukan hanya soal bendungan dan saluran yang berdiri, tetapi juga tentang seberapa luas sawah petani yang benar-benar memperoleh air.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *