DOMPU, Radardemokrasi.com – Hasil TKA 2026 akhirnya membuka kenyataan yang selama ini hanya dibicarakan diam-diam oleh orang tua murid, pemerhati pendidikan, bahkan sebagian guru sendiri: kualitas pendidikan dasar di Kabupaten Dompu masih jauh dari kata aman.
Di atas kertas, rapor pendidikan Dompu memang disebut mengalami kenaikan. Angka statistik terlihat membaik. Laporan administrasi tampak bergerak naik. Namun ketika kemampuan akademik siswa diuji lebih dalam melalui Hasil TKA 2026, yang muncul justru sinyal bahaya serius, terutama pada kemampuan membaca, memahami soal, menulis, dan berhitung dasar.
Secara nasional saja, hasil TKA 2026 menunjukkan nilai rata-rata Bahasa Indonesia SD/MI berada di kisaran 60–69, sementara rata-rata Matematika SD/MI hanya sekitar 43. Artinya, secara nasional kemampuan numerasi anak-anak sekolah dasar Indonesia memang masih lemah.
Jika tingkat nasional saja masih rendah, maka daerah seperti Dompu yang masih menghadapi banyak keterbatasan pendidikan sangat mungkin berada di bawah rata-rata daerah maju pendidikan seperti kota-kota besar di Jawa.
Ini bukan lagi persoalan biasa. Ini tamparan keras bagi dunia pendidikan dasar Dompu.
Sebab jika siswa SD dan MI masih lemah memahami bacaan sederhana, kesulitan menyelesaikan soal logika dasar, bahkan tidak mampu membangun pola berpikir analitis sesuai jenjangnya, maka ada yang salah dalam proses belajar di ruang kelas selama bertahun-tahun.
Dan jujur harus diakui, penyebabnya tidak bisa terus dibebankan kepada siswa semata.
Hasil TKA 2026 seharusnya menjadi evaluasi besar terhadap kualitas guru, disiplin sekolah, dan sistem pengawasan pendidikan di Dompu.
Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan yang selama ini dibiarkan menjadi “budaya biasa”.
Di Dompu masih ada guru yang secara administrasi berstatus guru sekolah dasar, tetapi belum benar-benar memiliki kemampuan pedagogik yang kuat untuk mengajar anak-anak usia dasar. Ada guru yang sekadar hadir menggugurkan kewajiban tanpa kemampuan membangun pemahaman siswa secara mendalam.
Di sejumlah sekolah, terutama wilayah pelosok dan daerah 3T, kualitas pembelajaran masih sangat tertinggal. Namun ironisnya, masalah ini ternyata juga terjadi di sebagian sekolah wilayah kota.
Masih ada guru datang pukul 08.00 bahkan 09.00 pagi seolah keterlambatan adalah hal normal. Masih ada guru yang masuk kelas hanya memberi catatan lalu membiarkan siswa belajar sendiri tanpa pendampingan serius. Bahkan praktik “absen luar pagar sekolah” masih menjadi pembicaraan masyarakat dari tahun ke tahun.
Jika fakta-fakta seperti ini terus terjadi, lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas lemahnya hasil TKA 2026 siswa Dompu?
Tidak mungkin kualitas akademik siswa membaik jika budaya disiplin guru lemah. Tidak mungkin numerasi siswa meningkat jika proses belajar hanya sebatas menyalin catatan. Dan tidak mungkin lahir generasi unggul jika sekolah kehilangan budaya belajar yang sehat.
Masalah terbesar pendidikan Dompu hari ini tampaknya bukan lagi sekadar gedung sekolah atau jumlah siswa. Masalah utamanya mulai bergeser pada kualitas pengajaran dan mentalitas pendidikan itu sendiri.
Beberapa indikator juga menunjukkan mengapa pendidikan dasar Dompu masih berada pada kategori sedang ke bawah.
Kualitas literasi dan numerasi dasar masih belum merata. Banyak sekolah dasar di desa mengalami kekurangan guru mapel tertentu dan guru berkualitas. Akses bimbingan belajar, internet pendidikan, dan perpustakaan masih terbatas. Kultur belajar akademik belum sekuat daerah maju pendidikan. Banyak siswa juga masih kuat pada hafalan, tetapi lemah dalam logika numerasi dan pemahaman bacaan panjang.
Terlalu lama dunia pendidikan sibuk mengejar laporan administrasi, sementara kualitas belajar riil di ruang kelas tidak benar-benar diperiksa secara jujur.
Padahal pendidikan dasar adalah pondasi seluruh masa depan daerah. Anak SD hari ini adalah calon tenaga kerja, aparat, guru, pengusaha, bahkan pemimpin Dompu 15 sampai 20 tahun mendatang.
Jika pondasi literasi dan numerasi mereka lemah sejak awal, maka Dompu sedang menghadapi ancaman ketertinggalan generasi dalam jangka panjang.
Karena itu, hasil TKA 2026 tidak boleh hanya dijadikan formalitas evaluasi tahunan. Hasil ini harus menjadi alarm keras bagi Dinas Pendidikan, kepala sekolah, pengawas, dan para guru.
Dinas terkait harus berani melakukan evaluasi terbuka terhadap sekolah-sekolah dengan hasil akademik rendah. Kepala sekolah harus berani menegakkan disiplin tanpa takut tidak disukai bawahan. Pengawas sekolah harus turun memeriksa proses belajar nyata, bukan hanya mengecek administrasi. Dan guru sendiri harus mulai sadar bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan rutin mengejar gaji dan tunjangan.
Guru memegang masa depan anak-anak Dompu di ruang kelas setiap hari.
Karena itu, ketika hasil TKA 2026 menunjukkan kemampuan akademik siswa masih lemah, maka dunia pendidikan tidak bisa terus berlindung di balik alasan klasik tentang fasilitas, kurikulum, atau kondisi ekonomi.
Sebab di banyak tempat lain, sekolah dengan fasilitas sederhana tetap mampu melahirkan siswa yang kuat membaca dan berpikir karena gurunya hadir dengan disiplin, tanggung jawab, dan keseriusan.
Dompu membutuhkan lebih dari sekadar kenaikan angka rapor pendidikan. Dompu membutuhkan revolusi budaya belajar.
Tanpa itu, hasil TKA 2026 hanya akan menjadi pengingat pahit bahwa pendidikan dasar daerah ini sedang berjalan, tetapi belum benar-benar mendidik. [M. Aulia]


Komentar