Dompu, Radardemokrasi.com – Bayi meninggal di Bima tidak boleh berhenti sebagai kabar duka yang lalu menghilang bersama bergantinya siklus pemberitaan.
Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk menguji sejauh mana rumah sakit benar-benar menempatkan keselamatan pasien di atas segala prosedur administrasi.
Apa pun hasil penyelidikan nantinya, nyawa seorang bayi adalah persoalan yang terlalu mahal untuk diperdebatkan hanya dengan saling menyampaikan klarifikasi.
Keluarga memiliki versinya sendiri. Pihak rumah sakit juga menyampaikan penjelasan. Publik tentu berhak menunggu fakta yang utuh. Namun, ada satu prinsip yang tidak boleh bergeser sedikit pun.
Dalam pelayanan kesehatan, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Bila terdapat kondisi gawat darurat atau pasien membutuhkan tindakan segera, urusan administrasi maupun mekanisme pembiayaan semestinya tidak menjadi penghalang.
Kasus ini berkembang karena muncul dugaan adanya kendala memperoleh obat yang dikaitkan dengan kepesertaan BPJS. Terlepas benar atau tidaknya dugaan tersebut, persepsi masyarakat sudah telanjur terbentuk. Itu menunjukkan masih adanya persoalan kepercayaan terhadap sistem pelayanan kesehatan, terutama ketika masyarakat kecil berhadapan dengan birokrasi rumah sakit.
Rumah sakit memang memiliki standar operasional, aturan pelayanan, dan mekanisme pembiayaan yang harus dipatuhi.
Namun seluruh aturan itu dibuat untuk mendukung pelayanan, bukan mengurangi hak pasien memperoleh pertolongan. Ketika seorang bayi yang baru lahir harus berjuang mempertahankan hidup, masyarakat berharap tenaga medis dan manajemen rumah sakit bergerak dengan kecepatan maksimal, bukan berlindung di balik prosedur.
Kasus yang terjadi di Bima juga menjadi pengingat bahwa pelayanan publik tidak cukup hanya diukur melalui jumlah fasilitas, gedung baru, atau peralatan medis modern. Yang paling menentukan adalah keberanian mengambil keputusan demi menyelamatkan nyawa. Dalam situasi kritis, masyarakat tidak membutuhkan perdebatan administratif. Mereka membutuhkan tindakan.
Karena itu, klarifikasi rumah sakit saja belum cukup. Yang dibutuhkan publik adalah keterbukaan penuh terhadap seluruh kronologi, mulai dari waktu pasien datang, kondisi medis bayi, tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan, ketersediaan obat, hingga komunikasi dengan keluarga.
Transparansi menjadi satu-satunya cara memulihkan kepercayaan masyarakat.
Pemerintah daerah dan instansi pengawas juga tidak boleh sekadar menunggu isu ini mereda. Audit menyeluruh terhadap pelayanan harus dilakukan secara independen.
Bila ditemukan kelalaian, siapa pun yang bertanggung jawab harus menerima konsekuensi sesuai aturan. Sebaliknya, jika rumah sakit telah bekerja sesuai prosedur, hasil pemeriksaan juga harus disampaikan secara terbuka agar tidak menyisakan spekulasi.
Di NTB, pelayanan kesehatan masih menjadi salah satu kebutuhan dasar yang paling sensitif. Banyak masyarakat menggantungkan harapan kepada rumah sakit pemerintah karena keterbatasan ekonomi. Itulah sebabnya setiap dugaan pelayanan yang dinilai tidak berpihak kepada pasien selalu memicu reaksi keras. Kepercayaan publik dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa runtuh hanya karena satu kasus yang tidak ditangani secara transparan.
Peristiwa ini semestinya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh rumah sakit, bukan hanya lokasi tempat kejadian. Sistem pelayanan harus memastikan bahwa tidak ada pasien yang merasa diabaikan karena persoalan administrasi atau pembiayaan. Nyawa manusia tidak boleh bergantung pada cepat atau lambatnya proses verifikasi dokumen.
Pada akhirnya, kasus bayi meninggal di Bima bukan sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini adalah ujian terhadap kemanusiaan dalam sistem pelayanan kesehatan. Rumah sakit berdiri untuk menyelamatkan kehidupan. Karena itu, setiap keraguan publik harus dijawab dengan fakta, keterbukaan, dan tanggung jawab, bukan sekadar pembelaan. Bila ada kekeliruan, akuilah. Bila ada kelemahan sistem, benahilah. Sebab bagi keluarga yang kehilangan, tidak ada klarifikasi yang mampu mengembalikan nyawa seorang anak. [M. Aulia]


Komentar