Sumbawa, Radardemokrasi.com – Pemerintah Kabupaten Sumbawa menggandeng BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Atourin untuk memperkuat pemasaran produk wisata melalui Online Travel Agent (OTA).
Kolaborasi ini diwujudkan lewat pelatihan pembuatan paket wisata yang berlangsung di Aula BKPSDM Kabupaten Sumbawa Besar pada 11–13 Agustus 2026.
Pelatihan digelar secara hybrid dengan melibatkan 30 peserta secara luring dari unsur masyarakat dan pelaku usaha pariwisata.
Sebanyak 50 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai titik Akses Internet dan BTS BAKTI yang tersebar di Kabupaten Sumbawa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.AP., membuka kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Sumbawa, perwakilan BAKTI Komdigi, serta sejumlah pihak terkait.
Pemerintah daerah menilai penguatan kapasitas digital menjadi kebutuhan mendesak ketika persaingan destinasi wisata semakin terbuka. Daya tarik alam dan budaya tidak cukup jika tidak dikemas sebagai produk yang mudah ditemukan, dipahami, dibeli, dan dibagikan melalui kanal digital.
Perwakilan BAKTI Komdigi, Inneke Lady, menegaskan destinasi menarik membutuhkan strategi pemasaran yang mampu menjangkau wisatawan lebih luas.
Melalui OTA, paket wisata dapat ditawarkan lengkap dengan informasi destinasi, aktivitas, harga, durasi perjalanan, fasilitas, hingga mekanisme pemesanan.
Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi produk wisata lokal yang selama ini lebih dikenal masyarakat sekitar. Platform digital memungkinkan pelaku usaha mempertemukan potensi daerah dengan calon wisatawan dari berbagai wilayah, bahkan mancanegara, tanpa bergantung sepenuhnya pada promosi konvensional.
Namun, pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. Atourin akan memberikan pendampingan secara daring selama dua bulan, Agustus hingga September 2026. Skema ini ditujukan agar peserta mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh, menyusun paket yang kompetitif, dan mengelola pemasaran secara konsisten.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap peserta dapat berkembang menjadi local champion pariwisata.
Mereka bukan sekadar pengguna platform, melainkan penggerak yang mampu menghubungkan teknologi, kreativitas, dan potensi destinasi menjadi penawaran wisata bernilai ekonomi.
Digitalisasi akhirnya bukan hanya soal memasang paket di OTA.
Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas layanan, memperbarui informasi, merespons calon wisatawan, serta memastikan pengalaman berkunjung sejalan dengan promosi. Dari titik itulah pasar digital pariwisata diuji: apakah teknologi benar-benar mampu mengubah potensi menjadi transaksi dan kunjungan. Kanal digital dapat menjadi etalase utama pariwisata yang lebih kompetitif dan makin berkelanjutan.


Komentar