Lombok Tengah, Radardemokrasi.com – Prosesi Nyemulak atau Tanjek Teken menandai dimulainya pemulihan Kawasan Dusun Adat Sade 1, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Kamis, 3 September 2026.
Tanjek teken merupakan penanaman tiang pancang utama bangunan untuk pertama kali, bagian dari tradisi masyarakat Sasak. Prosesi berlangsung khidmat pukul 08.00-10.00 Wita, bertepatan dengan 21 Rabiul Awal.
Pemilihan waktu tersebut mengacu pada hitungan urige serta permintaan para penglingsir. Pembangunan diharapkan dimulai pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pemulihan Sade tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Menurut dia, yang sedang dikerjakan adalah rekonstruksi sejarah dan peradaban.
“Kita sedang merekonstruksi, bukan rekonstruksi bangunan, tetapi kita sedang merekonstruksi sejarah dan peradaban,” kata Iqbal.
Karena itu, ia meminta pembentukan satuan tugas dengan keahlian lintas disiplin. Arsitek, teknik sipil, kehutanan, kesehatan masyarakat hingga desain interior dinilai perlu terlibat.
Iqbal juga mengingatkan pembangunan Sade harus dirancang untuk bertahan panjang. Apa yang dibangun hari ini, kata dia, akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
“Sekali membangun, ayo kita bangun yang benar sekalian,” tegasnya.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyebut pemilihan momentum bulan Maulid Nabi memiliki makna tersendiri bagi masyarakat adat.
Para penglingsir, kata Pathul, menginginkan pembangunan dimulai pada bulan tersebut. Tujuan akhirnya bukan semata memulihkan kawasan, tetapi menyiapkan Sade bagi generasi berikutnya.
75 Rumah Adat Rusak
Musibah sebelumnya merusak 75 rumah adat di Sade 1. Kerusakan juga mencakup delapan berugak, enam sekenam, satu masjid besar, satu museum, dua toilet dan 69 tempat usaha.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB Lalu M. Faozal menyebut rekonstruksi akan mengikuti kaidah serta tradisi yang diwariskan masyarakat Sasak.
Pembangunan dimulai dari Bale Beleq. Masjid mendapat dukungan MIM Foundation. Museum semi-permanen disokong PT Otsuka, sedangkan Universitas Mataram mendukung penyusunan buku rekonstruksi.
Sekenam ditargetkan rampung sebelum MotoGP pada 9-11 Oktober 2026. Fasilitas tersebut diharapkan dapat kembali menerima wisatawan.
Pemerintah juga menyiapkan toilet, sanitasi air, area parkir dan kelistrikan. Penataan dilakukan bersama UNRAM dan melalui dukungan CSR PT PLN. Bantuan dari PT STM dan Bluebird turut diserahkan.
Iqbal mengarahkan pembentukan Satgas khusus dengan satu rekening bersama. Mekanisme tersebut ditujukan agar pengelolaan bantuan berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah juga mengejar pemulihan fasilitas ekonomi warga. Museum semi-permanen, anjungan pantau dan sentra tenun menjadi bagian dari prioritas agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak ikut runtuh.
Bagi Iqbal, pemulihan Sade menjadi momentum kebudayaan besar pertama NTB. Setelah memiliki BPK sendiri, Pemprov NTB mendorong Sade ditetapkan sebagai desa adat sekaligus situs budaya.
Dengan begitu, Sade tidak lagi dipandang sebatas desa wisata. Ia didorong menjadi ruang hidup kebudayaan yang menjaga jejak sejarah masyarakat Sasak.
Hadir dalam prosesi tersebut Ketua DPRD Lombok Tengah Lalu Ramdan, Dekan Fakultas Teknik UNRAM Muhamad Syamsu Iqbal, perwakilan donatur dan tokoh masyarakat.


Komentar