Dompu, Radardemokrasi.com – Ada kabar manis dari Mataram. Dompu disebut sebagai daerah percontohan. Kalimat itu tentu menyenangkan telinga. Apalagi disampaikan dalam forum yang membahas pencegahan korupsi. Rasanya seperti mendapat nilai bagus sebelum rapor benar-benar dibagikan.
Tapi tunggu dulu.
Percontohan yang dimaksud bukanlah gelar sebagai daerah paling bersih dari korupsi. Bukan pula penghargaan bahwa seluruh tata kelola pemerintahan Dompu sudah kinclong. Yang dipaparkan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Komjen Pol. Tomsi Tohir adalah praktik perencanaan dan pengusulan Pokok Pikiran atau Pokir DPRD melalui SIPD.
Dalam konteks itu, Dompu dianggap memiliki proses yang dapat dicontoh. Penggunaan SIPD untuk Pokir dinilai membuat proses lebih transparan dan akuntabel. Ini kabar baik. Patut diapresiasi. Bahkan patut dipertahankan.
Namun jangan sampai kata “percontohan” mengalami perjalanan panjang setelah keluar dari ruang rapat.
Hari ini percontohan pengelolaan Pokir. Besok berubah menjadi daerah teladan. Lusa bisa saja terdengar sebagai daerah yang sudah bebas dari korupsi. Padahal, tidak ada satu pun pernyataan yang otomatis mengubah pujian administratif menjadi sertifikat kesucian pemerintahan.
Di sinilah publik perlu memakai rem.
Sebab pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan memastikan Pokir masuk melalui aplikasi. SIPD memang penting. Sistem digital membantu mencatat, mengawasi, dan membuka jejak proses perencanaan. Tetapi integritas pemerintahan jauh lebih luas daripada sekadar apakah sebuah usulan sudah masuk ke sistem.
Ada anggaran. Ada pengadaan. Ada hibah. Ada pelayanan publik. Ada pengawasan. Ada konflik kepentingan. Ada kepatuhan terhadap aturan. Dan semuanya membutuhkan kewaspadaan.
KPK dalam rangkaian kegiatan penguatan integritas dan pencegahan korupsi di NTB juga mengingatkan pemerintah daerah agar pengelolaan anggaran dan pelayanan publik tidak menjadi celah transaksi kepentingan.
Artinya, pesan KPK sebenarnya cukup terang: jangan merasa selesai hanya karena administrasi sudah terlihat rapi.
Lalu di mana posisi SPI?
Survei Penilaian Integritas atau SPI KPK merupakan instrumen untuk melihat kondisi integritas dan risiko korupsi. Karena itu, angka SPI tidak seharusnya dipakai sebagai lawan dari pujian Kemendagri. Keduanya mengukur hal yang berbeda.
Justru di situlah menariknya.
Dompu bisa mendapat apresiasi karena satu praktik tata kelola dianggap baik, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki pekerjaan rumah dalam membangun integritas pemerintahan secara keseluruhan.
Dua hal itu tidak bertentangan.
Maka, tidak perlu alergi terhadap rapor. Kalau nilainya belum sempurna, ya diperbaiki. Kalau ada titik lemah, ya dibenahi. Pemerintah daerah tidak harus menunggu dipuji untuk bekerja lebih keras.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengubah satu tepuk tangan menjadi pesta kemenangan.
Sebab dalam pemerintahan, satu keberhasilan tidak otomatis menghapus sepuluh pekerjaan rumah.
Dompu boleh menjadi contoh. Bahkan seharusnya bangga jika praktik Pokir melalui SIPD memang dinilai transparan dan akuntabel.
Tetapi predikat itu sebaiknya dijadikan awal untuk memperluas pembenahan, bukan alasan untuk berhenti memperbaiki yang lain.
Rapor SPI juga jangan dimusuhi. Ia bukan musuh pemerintah. Ia justru semacam cermin. Kalau wajah terlihat kurang rapi, yang perlu dilakukan bukan memecahkan cerminnya.
Yang perlu dilakukan adalah menyisir rambut.
Begitu pula dengan integritas.
Kalau ada celah, tutup. Kalau ada pengawasan yang lemah, perkuat.
Kalau ada proses yang belum transparan, buka. Kalau ada risiko korupsi, jangan menunggu sampai menjadi perkara.
Sebab korupsi tidak selalu datang dengan suara keras. Ia bisa tumbuh dari ruang yang tampak biasa, dari keputusan yang dianggap sepele, dari proses yang dibiarkan tanpa pengawasan.
Karena itu, pujian untuk Dompu sebaiknya diterima dengan kepala tegak dan dada lapang, tetapi juga dengan sedikit rasa malu jika memang masih ada rapor yang harus diperbaiki.
Rakor boleh selesai. Pujian boleh disimpan. Foto bersama boleh dipasang.
Tetapi pekerjaan rumah jangan ikut difoto lalu disimpan dalam album.
Sebab yang paling geli bukan Dompu dipuji menjadi contoh.
Yang paling geli adalah ketika Dompu sudah diajak foto sebagai contoh, sementara rapor SPI belum diajak tersenyum.


Komentar