Dompu, Radardemokfasi.com – DPRD Dompu kembali didatangi warga. Senin, 7 September 2026, belasan pemuda Desa Wawonduru, Kecamatan Woja, datang menagih janji perbaikan jalan yang sejak 2025 belum juga terealisasi.
Mereka tiba setelah gedung dewan sebelumnya menerima kelompok yang mengatasnamakan Aliansi PPPK Paruh Waktu, tenaga kesehatan dan tenaga teknis. Belum sempat halaman gedung kembali tenang, suara megafon kembali mengambil alih.
Jumlah massa tidak sampai puluhan besar. Hanya belasan kepala. Tetapi suara mereka cukup membuat halaman DPRD terasa lebih penuh daripada jumlah orangnya.
Tuntutannya pun bukan perkara baru. Mereka meminta pemerintah memperbaiki jalan lintas Desa Wawonduru menuju Desa Mbawi, Kecamatan Dompu, termasuk akses sejumlah desa menuju Kecamatan Hu’u.
Jalur tersebut bagi warga bukan sekadar jalan yang menghubungkan titik di peta. Ia menjadi salah satu akses penting dari Woja dan Dompu menuju wilayah Hu’u dan Pajo.
Karena itu, para pemuda mempertanyakan alasan jalan tersebut belum juga mendapatkan kepastian perbaikan. Bagi mereka, jalan yang rusak bukan hanya persoalan aspal, melainkan akses warga, aktivitas ekonomi, dan hubungan antardesa.
Koordinator lapangan aksi mengatakan tuntutan tersebut telah disampaikan sejak 2025. Namun, menurut dia, belum ada realisasi serius dari pemerintah.
“Sejak 2025 kami sudah datang demo, tetapi belum ada realisasi serius dari pemerintah. Tahun 2026 saja sudah empat kali kami dialog dan demo dengan DPRD, tetapi tak kunjung direalisasikan. Ada apa?” katanya.
Pertanyaan itu kembali masuk ke ruang politik DPRD Dompu.
Massa diterima anggota DPRD Dompu dari Partai NasDem, H.
Iksan. Ia mendengarkan penyampaian aspirasi sebelum memberikan tanggapan.
Jawaban yang diterima massa kembali berada di wilayah janji: tuntutan akan diteruskan kepada pimpinan DPRD dan kepala daerah.
Demonstrasi pun berakhir. Massa membubarkan diri dengan membawa pulang jawaban yang belum berbentuk pekerjaan fisik.
Jalan Wawonduru akhirnya kembali menjadi urusan yang menunggu.
Yang bergerak baru massa dan janji. Jalannya sendiri masih diminta bergerak menuju perbaikan.
Belasan kepala memang tidak banyak. Tetapi jika tuntutan yang sama harus berkali-kali datang ke gedung dewan, mungkin yang patut dihitung bukan jumlah demonstran, melainkan berapa kali janji telah diucapkan.


Komentar