Sumbawa, Radardemokrasi.com – Sumbawa Besar, Upacara bendera di SMP Negeri 1 Sumbawa Besar menjadi panggung pesan Kajari Sumbawa tentang cita-cita, disiplin, kerja keras, dan karakter siswa.
Upacara bendera rutin setiap Senin di SMP Negeri 1 Sumbawa Besar berlangsung tertib, Senin (7/9/2026). Kali ini, Kepala Kejaksaan Negeri Sumbawa, Iwan Arto Koesoemo, S.H., M.H., hadir bersama jajaran Kejaksaan Negeri Sumbawa.
Kehadiran Kajari bukan sekadar berdiri di podium. Momentum itu dimanfaatkan untuk menyampaikan motivasi kepada siswa sekaligus memperkuat sinergi antara aparat penegak hukum dan dunia pendidikan.
Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Budi Sastrawan, S.IP., M.Si., bersama jajaran. Kepala sekolah, dewan guru, tenaga kependidikan, dan seluruh siswa SMP Negeri 1 Sumbawa Besar juga mengikuti kegiatan tersebut. Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa, Jamhur Husain, S.E., turut hadir.
Dalam amanatnya, Kajari mendorong siswa tidak berhenti pada daftar cita-cita. Keinginan, katanya, harus disusul kemauan, disiplin, ketekunan, serta keberanian menjalani proses.
Keberhasilan, dalam pesan Kajari, bukan barang yang datang karena berharap. Ia membutuhkan kerja keras dan kesungguhan. Siswa diajak terus berusaha menjadi pribadi yang membanggakan diri sendiri, orang tua, dan guru.
Lebih jauh, Kajari menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai jalan mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk membentuk karakter, integritas, tanggung jawab, dan kesadaran hukum sejak dini.
Pesan itu terdengar sederhana, tetapi penting bagi siswa yang sedang menyiapkan diri menghadapi masa depan. Prestasi tanpa karakter mudah kehilangan arah. Pengetahuan tanpa tanggung jawab juga dapat menjadi beban.
Kehadiran jajaran Kejaksaan Negeri Sumbawa sekaligus memperlihatkan upaya membangun kedekatan antara aparat penegak hukum dan lingkungan sekolah. Sinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan yang sehat.
Bagi sekolah, upacara Senin kembali menjadi lebih dari rutinitas mengibarkan bendera dan berbaris di lapangan. Amanat Kajari memberi tambahan pesan bahwa cita-cita perlu dibayar dengan proses.
Para siswa diharapkan terus belajar, menjaga disiplin, membangun integritas, serta berani bertanggung jawab atas pilihan. Dari sekolah, nilai-nilai itu diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan sebelum kelak menjadi bekal memasuki masyarakat.
Di tengah barisan siswa, pesan itu menjadi pengingat bahwa masa depan tidak cukup ditunggu, tetapi harus disiapkan dengan kebiasaan sejak bangku sekolah.
Upacara berlangsung tertib hingga selesai. Pesan Kajari pun tinggal sebagai pekerjaan rumah: bukan sekadar didengar saat Senin pagi, melainkan dibuktikan dalam keseharian.


Komentar