Sumbawa, Radardemokrasi.com – Dinkes Sumbawa kembali menegaskan komitmennya mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Sumbawa.
Dinkes Sumbawa, menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat pembangunan kesehatan melalui intervensi yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kamis, 30 Juli 2026, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat, SKM., MPH, menyampaikan bahwa persoalan gizi, khususnya stunting, masih menjadi pekerjaan rumah terbesar pada bayi dan balita.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa pada 2024 mencapai 29,7 persen, meningkat sekitar empat persen dibandingkan tahun 2023 yang berada di angka 25 persen. Survei lanjutan dijadwalkan kembali berlangsung pada Agustus 2026.
Data tersebut diperkuat melalui e-PPGBM yang dihimpun kader kesehatan di lapangan. Hingga 2026, jumlah balita stunting tercatat 3.256 anak, atau meningkat sekitar empat persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sarip Hidayat mengatakan malnutrisi masih menjadi persoalan utama pada bayi dan anak usia di bawah lima tahun sehingga peningkatan derajat kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas pembangunan daerah.
Menurutnya, sepanjang 2024 hingga 2025 belum tersedia intervensi langsung terhadap balita stunting karena keterbatasan anggaran. Satu anak stunting membutuhkan biaya penanganan sedikitnya 4,4 juta untuk pemeriksaan laboratorium, rujukan rumah sakit di luar tanggungan BPJS, pemberian makanan tambahan, hingga kontrol rutin ke dokter spesialis anak.
Memasuki 2026, intervensi mulai dijalankan melalui tiga skema. Pertama, inisiatif Desa Karang Dima yang membiayai penanganan 10 anak, dengan hasil tujuh anak berhasil keluar dari status stunting.
Kedua, dukungan dana Wakil Bupati sebesar 100 juta untuk menangani 37 anak di wilayah Puskesmas Moyo Utara. Ketiga, pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) sebesar Rp1,5 miliar sesuai arahan Bupati Sumbawa.
Dinas Kesehatan menargetkan penurunan stunting sebesar empat hingga lima persen pada 2026. Sarip menegaskan keberhasilan tidak cukup bergantung pada sektor kesehatan karena intervensi spesifik hanya menyumbang sekitar 30 persen, sedangkan 70 persen lainnya bergantung pada pola asuh keluarga, sanitasi, air bersih, dan dukungan lintas sektor.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan kerja sama antara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa dan Direktur RSUD Sumbawa yang disaksikan Wakil Bupati Sumbawa. Pada kesempatan itu juga diberikan penghargaan kepada Kepala Desa Karang Dima atas keberhasilannya menurunkan angka stunting.


Komentar