DOMPU, Radardemokrasi.com – Pembangunan daerah tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, pembangunan budaya dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menjaga identitas masyarakat Dompu.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Muhammad Ruslan atau yang lebih dikenal dengan sapaan Dae Olan.
Menurutnya, kemajuan fisik tanpa penguatan budaya hanya akan melahirkan pembangunan yang kehilangan arah dan jati diri.
“Budaya itu bukan sekadar cerita masa lalu. Budaya adalah identitas Dou Dompu. Di dalamnya ada bahasa daerah, adat istiadat, seni tradisi, gotong royong, sampai cara masyarakat memandang kehidupan,” ujarnya.
Dae Olan menilai, tantangan terbesar saat ini adalah derasnya pengaruh budaya luar yang perlahan menggeser nilai-nilai lokal.
Ia menyoroti generasi muda yang mulai jauh dari sejarah dan identitas daerahnya sendiri.
“Anak-anak muda sekarang lebih mengenal budaya luar dibandingkan budayanya sendiri. Bahasa daerah mulai jarang digunakan, ruang kesenian tradisional makin sempit, dan nilai kebersamaan perlahan tergeser oleh gaya hidup instan,” katanya.
Menurutnya, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka suatu saat generasi mendatang hanya akan mengenal Dompu sebatas nama wilayah, bukan sebagai identitas budaya yang hidup dan diwariskan.
Lebih lanjut, Dae Olan menegaskan bahwa budaya sejatinya dapat menjadi kekuatan besar bagi masa depan daerah.
Selain memperkuat karakter masyarakat, budaya juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ia menyebut festival budaya, seni pertunjukan, kuliner khas, hingga literasi sejarah lokal dapat menjadi daya tarik yang memberi ciri khas tersendiri bagi Kabupaten Dompu di tengah persaingan global.
“Budaya bukan penghambat kemajuan. Justru budaya adalah pembeda yang membuat daerah punya karakter dan kebanggaan,” tegasnya.
Selain itu, pembangunan budaya dinilai penting dalam membangun karakter masyarakat Dou Dompu, terutama nilai saling menghormati, solidaritas sosial, keberanian, etos kerja, dan penghormatan kepada orang tua.
“Kalau pembangunan hanya mengejar fisik, sementara karakter masyarakat diabaikan, maka kita hanya melahirkan kemajuan material yang rapuh secara moral,” tambahnya.
Karena itu, ia berharap pembangunan budaya dapat menjadi perhatian serius seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Sebab menjaga budaya, menurutnya, sama dengan menjaga masa depan Dompu itu sendiri.
“Infrastruktur bisa membangun wilayah. Tapi budaya membangun manusia. Kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi sejauh mana daerah itu mengenal dan menjaga jati dirinya sebagai Dou Dompu,” pungkas Dae Olan.


Komentar