Opini Redaksi
Beranda / Opini Redaksi / Musda Golkar Dompu Aklamasi: Alarm Sepinya Kader atau Krisis Kepercayaan.?

Musda Golkar Dompu Aklamasi: Alarm Sepinya Kader atau Krisis Kepercayaan.?

Ilustrasi: Golar Dompu Hari ini (Foto: AI)
Ilustrasi: Golar Dompu Hari ini (Foto: AI)

DOMPU, Radardemokrasi.com – Musda Golkar Dompu 2026 seharusnya menjadi panggung demokrasi internal partai.

Forum tertinggi tingkat daerah itu semestinya menghadirkan pertarungan gagasan, adu visi, dan kompetisi sehat antar kader terbaik untuk memperebutkan kursi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Dompu periode 2025–2030.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: hanya satu nama yang muncul, satu figur yang mendaftar, satu calon yang melenggang, lalu aklamasi.

Efan Limantika, anggota DPRD Provinsi NTB, dipastikan memimpin Golkar Dompu lima tahun ke depan tanpa lawan.

Secara organisasi, ini sah.

Pajak Menara Telekomunikasi Dompu Dipertanyakan Publik

Mekanismenya berjalan.

Tidak ada aturan yang dilanggar.

Tetapi dalam politik, pertanyaan publik tidak berhenti hanya pada kata “sah”.

Di kabupaten dengan lebih dari 180 ribu daftar pemilih tetap (DPT), dengan dinamika politik yang keras dan sejarah panjang Golkar sebagai partai besar, mengapa hanya satu figur yang berani tampil?

Apakah Golkar Dompu sedang kehabisan kader yang punya nyali bertarung?

Kejati Segera Turun Ke SMAN 1 Kempo, Dugaan Korupsi BOS Diusut

Atau justru ini alarm bahwa ruang kompetisi di internal partai mulai menyempit?

Musda Golkar Dompu yang berujung aklamasi memang bisa dibaca sebagai tanda soliditas.

Tetapi publik juga berhak membacanya dari sudut yang lain: apakah ini soliditas, atau justru sunyi karena tidak ada yang lagi tertarik masuk gelanggang?

Sebab partai politik hidup dari kompetisi ide dan regenerasi.

Jika forum sebesar Musda hanya menghadirkan satu calon, wajar jika muncul tanda tanya. Ke mana kader-kader lain?

Outsourcing Setda Kota Bima di Tengah Jeritan PPPK

Mengapa tak ada penantang?

Apakah semua sepakat, atau justru ada rasa enggan untuk bertarung?

Golkar Dompu tentu masih memiliki struktur hingga delapan kecamatan, jaringan desa, dan sejarah sebagai partai yang pernah sangat kuat di daerah ini.

Tetapi politik tidak hidup dari sejarah.

Politik hidup dari energi baru, dari kader yang berebut menawarkan masa depan.

Jika hari ini hanya satu figur yang tampil, ini bisa dibaca sebagai pesan serius.

Jangan-jangan ini bukan sekadar aklamasi, tetapi alarm.

Alarm bahwa daya tarik Golkar mulai melemah.

Alarm bahwa partai sebesar pohon beringin tidak lagi ramai diperebutkan seperti dulu.

Alarm bahwa kaderisasi sedang tidak baik-baik saja.

Lebih jauh lagi, publik tentu bertanya: apakah ini pertanda Golkar Dompu mulai dijauhi rakyat yang dulu setia?

Sebab partai yang kuat biasanya melahirkan banyak figur, banyak kompetitor, dan banyak kader yang ingin memimpin.

Ketika yang muncul hanya satu, politik kehilangan dinamika.

Golkar Dompu tentu bisa membantah.

Mereka bisa menyebut ini sebagai bentuk konsolidasi, kekompakan, dan kesatuan arah.

Tetapi kritik tetap sah: kekompakan yang terlalu sunyi kadang justru menyimpan tanda bahaya.

Musda Golkar Dompu hari ini bukan hanya soal terpilihnya Efan Limantika secara aklamasi.

Ini juga menjadi cermin: apakah Golkar masih menjadi rumah politik yang diperebutkan, atau perlahan mulai kehilangan magnetnya?

Sebab dalam politik, aklamasi tidak selalu berarti kemenangan besar.
Kadang, ia justru terdengar seperti bunyi alarm yang pelan—tetapi mengkhawatirkan. [M. Aulia]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *