Opini Redaksi
Beranda / Opini Redaksi / Musda Golkar Dompu: Suara Rakyat Atau Sekedar Slogan.?

Musda Golkar Dompu: Suara Rakyat Atau Sekedar Slogan.?

Ilustrasi: Suara Rakyat/Golkar (Foto: AI)
Ilustrasi: Suara Rakyat/Golkar (Foto: AI)

DOMPU, Radardemokrasi.com – Musda Golkar Dompu hari ini bukan sekadar agenda rutin partai untuk memilih ketua baru. Lebih dari itu, Musda Golkar Dompu adalah momentum untuk menjawab pertanyaan yang mulai menggema di tengah publik: benarkah Golkar masih menjadi suara rakyat, atau slogan itu kini hanya tinggal kalimat lama yang terus diulang tanpa makna?

Di Dompu, Golkar bukan partai baru. Partai berlambang pohon beringin ini pernah menjadi kekuatan politik yang begitu kokoh. Bahkan di masa jayanya, Golkar Dompu pernah menempatkan 13 wakil rakyat di DPRD Dompu. Itu adalah masa ketika suara Golkar benar-benar punya daya tekan, punya pengaruh, dan dianggap sebagai salah satu saluran politik rakyat.

Namun politik tidak pernah mengenal kejayaan yang abadi.

Waktu berjalan, peta berubah, dan kekuatan yang dulu tampak kokoh perlahan mulai retak. Hari ini, fakta politik berbicara lain.

Golkar Dompu hanya menyisakan dua kursi di DPRD Dompu dari lima daerah pemilihan. Sebuah angka yang sulit dibantah sebagai tanda bahwa suara partai ini tak lagi sekuat dulu.

Pajak Menara Telekomunikasi Dompu Dipertanyakan Publik

Karena itu, Musda Golkar Dompu hari ini sesungguhnya bukan sekadar memilih ketua. Ini adalah ruang evaluasi yang paling jujur.

Sebab publik berhak bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Golkar Dompu?

Apakah partai ini mulai kehilangan sentuhan dengan rakyat?

Apakah suara kader di bawah tak lagi didengar oleh elite?

Atau jangan-jangan Golkar terlalu lama nyaman dengan romantisme masa lalu hingga lupa bahwa rakyat terus bergerak dan pilihan politik juga berubah?

Kejati Segera Turun Ke SMAN 1 Kempo, Dugaan Korupsi BOS Diusut

Fakta lain juga tak bisa diabaikan. Dalam beberapa kontestasi Pilkada, Golkar Dompu beberapa kali ikut mengusung pasangan calon, namun hasilnya kandas.

Bahkan pada Pilkada terakhir, Golkar yang ikut mengusung Abdul Kader Jailani harus menerima kekalahan dari pasangan yang hanya didukung kekuatan partai yang secara usia jauh lebih muda.

Ini bukan sekadar kalah dalam kontestasi. Ini adalah alarm bahwa mesin politik Golkar Dompu sedang tidak baik-baik saja.

Yang lebih tajam, rakyat juga patut bertanya: sekeras apa suara Golkar Dompu hari ini di gedung dewan untuk membela rakyat?

Ataukah suara itu kini hanya terdengar menjelang pemilu, lalu pelan-pelan hilang ketika rakyat membutuhkan keberpihakan?

Outsourcing Setda Kota Bima di Tengah Jeritan PPPK

Musda Golkar Dompu yang diikuti delapan pemilik hak suara hari ini menjadi titik penting.

Ketua yang lahir dari forum ini tak cukup hanya pandai merawat struktur partai atau mengatur posisi elite.

Golkar Dompu butuh pemimpin yang punya keberanian, punya gagasan, dan yang paling penting: mampu mengembalikan kepercayaan rakyat.

Karena kalau Musda Golkar Dompu hanya melahirkan pemimpin kompromi, tanpa keberanian, tanpa arah, dan tanpa suara yang benar-benar berpihak kepada rakyat, maka slogan “Suara Golkar, Suara Rakyat” akan terdengar semakin hampa.

Dan politik selalu punya cara paling kejam untuk menghukum partai yang kehilangan kepercayaan publik: ditinggalkan pelan-pelan, lalu hilang dari panggung sejarah.

Kini pertanyaannya tinggal satu: akankah Musda Golkar Dompu melahirkan suara baru yang lantang untuk rakyat, atau justru sekadar memperpanjang slogan yang mulai kehilangan gema? [M. Aulia]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *