Mataram, Radardemokrasi.com – Gerakan Kemah Literasi NTB memasuki fase baru. Tak lagi sebatas mengajak masyarakat membaca buku, gerakan ini kini mengusung pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak melalui permainan tradisional, mendongeng, membaca nyaring, hingga ruang diskusi yang menyenangkan. Langkah tersebut ditandai dengan pembukaan Kemah Literasi NTB 2026 yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 di Kota Mataram.
Dalam Kemah Literasi NTB, Bunda Literasi Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, meluncurkan Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA), Deklarasi Relawan GELITRA NTB, Gerakan Hibah Sejuta Buku (HIBAH SAKU), serta penyerahan simbolis donasi buku. Seluruh program itu diarahkan untuk memperluas akses bacaan sekaligus memperkuat karakter generasi muda melalui pendekatan budaya lokal.
Sinta mengatakan keberhasilan gerakan literasi tidak mungkin terwujud tanpa dedikasi relawan yang selama ini bergerak hingga pelosok desa. Menurutnya, semangat para pegiat literasi menjadi modal penting dalam membangun masa depan anak-anak NTB.
“Saya sering mendapat laporan relawan yang bergerak sampai ujung desa. Itu membuat saya terharu karena mereka mencintai generasi muda NTB dengan sepenuh hati,” ujarnya saat membuka Kemah Literasi NTB, Jumat (3/7).
Ia menilai tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan minat membaca. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat juga dituntut mampu memahami isi bacaan dan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.
Karena itu, Kemah Literasi NTB menghadirkan GELITRA sebagai pendekatan baru yang menggabungkan aktivitas membaca dengan permainan tradisional, storytelling, serta berbagai kegiatan interaktif agar anak memahami isi bacaan, bukan hanya sekadar membaca.
Selain itu, melalui HIBAH SAKU, pemerintah berharap buku semakin mudah dijangkau masyarakat. Buku diharapkan hadir sebagai teman perjalanan, teman berdiskusi, dan sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Selama tiga hari pelaksanaan, Kemah Literasi NTB menjadi ruang kolaborasi para relawan dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, dan menyusun strategi membumikan budaya literasi.
Pemerintah Provinsi NTB berharap gerakan ini tumbuh menjadi gerakan sosial yang melahirkan generasi gemar membaca, berpikir kritis, kreatif, serta mencintai budaya daerah.


Komentar