Lombok Tengah, Radardemokrasi.com – Jajaran Aparatur Sipil Negara Kabupaten Lombok Tengah bersama TNI dan Polri turun membersihkan sisa material kebakaran yang melanda kawasan adat tersebut.
Sekitar pukul 07.00 WITA, kegiatan diawali apel pagi di lokasi. Setelah itu, peserta bergerak membersihkan puing bangunan, mengumpulkan sampah, serta menata kembali lingkungan yang terdampak.
Aktivitas sederhana itu menjadi penanda bahwa pemulihan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia bisa lahir dari tangan yang bekerja bersama.
Seluruh Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dilibatkan. Masing-masing organisasi perangkat daerah mengirimkan 10 orang untuk membantu proses pembersihan.
Para peserta diwajibkan menggunakan masker dan sarung tangan untuk mengurangi risiko ketika berhadapan dengan debu, pecahan material, dan sisa bangunan.
Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan kantong sampah untuk mendukung proses pengangkutan.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman menyiapkan tenaga profesional dan armada pendukung. Sementara Dinas Perhubungan mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi agar kegiatan berjalan aman dan tertib.
Keterlibatan ASN bersama TNI dan Polri memperlihatkan wajah lain birokrasi: tidak hanya hadir melalui meja pelayanan dan dokumen pemerintahan, tetapi juga turun ketika warga menghadapi musibah.
Di Sade, kepedulian itu diterjemahkan menjadi pekerjaan fisik yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Kawasan adat Sade bukan sekadar permukiman. Ia merupakan salah satu wajah kebudayaan Lombok yang memiliki daya tarik wisata dan nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Karena itu, pembersihan pascakebakaran bukan hanya urusan mengangkat puing, melainkan bagian dari upaya menjaga ruang hidup dan lingkungan kawasan adat.
Pemerintah dan masyarakat kini menghadapi pekerjaan lanjutan setelah gotong royong selesai. Sampah harus ditangani, lingkungan dipulihkan, dan kebutuhan warga terdampak perlu terus diperhatikan. Gotong royong memang tidak menghapus musibah, tetapi dapat mengurangi jarak antara pemerintah dan warga.
Langkah tersebut juga menjadi pengingat bahwa pemulihan kawasan terdampak membutuhkan kesinambungan. Setelah puing dibersihkan, perhatian perlu diarahkan pada keselamatan warga, kebersihan lingkungan, dan pemulihan aktivitas masyarakat.
Kehadiran pemerintah di tengah warga akan lebih berarti bila gotong royong hari ini berlanjut menjadi pendampingan dan tindakan nyata pada hari-hari berikutnya hingga kondisi benar-benar kembali pulih.
Dari Sade, pesan itu sederhana: ketika bencana meninggalkan puing, kebersamaan dapat menjadi tenaga pertama untuk menata kembali harapan.


Komentar