Lombok Barat, Radardemokrasi.com – Program pembangunan daerah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat saat ini, tetapi juga harus menjadi fondasi bagi masa depan setiap anak di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menegaskan pembangunan daerah tidak akan memiliki makna apabila masih ada anak-anak yang belum memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
“NTB tidak akan menjadi daerah yang maju apabila masih ada anak-anak yang tertinggal. Prinsip No One Left Behind bukan sekadar slogan, tetapi harus benar-benar diwujudkan dalam setiap kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Sinta saat menghadiri Wisuda dan Pelepasan Angkatan Pertama SLB Pelangi LombokCare di Yayasan LombokCare, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (21/6).
Dalam kesempatan tersebut, Bunda Sinta, sapaan akrabnya, mengingatkan para orang tua agar tidak pernah kehilangan harapan terhadap masa depan anak-anak mereka. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang melalui kasih sayang, pendidikan, dan pendampingan yang tepat.
“Mungkin hari ini mereka masih berada di fase kepompong. Namun saya yakin, dengan kasih sayang, pendidikan, dan pendampingan yang tepat, mereka akan tumbuh menjadi kupu-kupu yang indah dan mampu terbang tinggi menggapai masa depannya,” katanya.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan kelulusan enam anak yang telah menyelesaikan program fisioterapi, peringatan World Clubfoot Day, serta syukuran 14 tahun Yayasan LombokCare.
Sinta menyampaikan apresiasi atas kiprah LombokCare yang selama 14 tahun menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan layanan rehabilitasi, pendidikan, serta pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya penyandang disabilitas fisik dan anak dengan kondisi clubfoot atau kaki pengkor.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi NTB bersama para mitra pembangunan daerah berkomitmen memperluas layanan serupa hingga Pulau Sumbawa agar masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh terapi dan pendampingan bagi anak-anak mereka.
“Insya Allah kita akan mengupayakan hadirnya LombokCare di Pulau Sumbawa agar masyarakat tidak lagi terbebani jarak dan biaya yang besar untuk mendapatkan pelayanan,” ujarnya.
Secara khusus, Sinta memberikan apresiasi kepada 13 siswa yang mengikuti prosesi wisuda perdana SLB Pelangi LombokCare. Mereka terdiri atas tujuh lulusan SDLB, empat lulusan SMPLB, dan dua lulusan SMALB.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para orang tua, guru, relawan, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak yang telah mendedikasikan diri mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Setiap kali berada di tengah anak-anak istimewa dan keluarga-keluarga hebat seperti ini, saya selalu merasa tidak layak berdiri di atas panggung. Apa yang dilewati para orang tua dan para pendidik jauh melampaui apa yang saya bayangkan. Perjuangan mereka luar biasa,” ungkapnya.
Sinta mengaku terharu mendengar kisah para orang tua yang rela menempuh perjalanan jauh dari berbagai daerah di NTB demi membawa anak-anak mereka memperoleh layanan terapi dan pendidikan di LombokCare.
“Kalau bukan karena cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, tentu perjuangan seperti ini tidak akan mampu dilakukan. Semangat orang tua inilah yang harus kita apresiasi,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh organisasi perangkat daerah, TP PKK, dan para mitra pembangunan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam memenuhi hak-hak anak berkebutuhan khusus di NTB.
“Libatkan kami jika ada yang bisa kami bantu. Kita harus berjalan bersama agar tidak ada satu pun generasi muda NTB yang tertinggal,” ujarnya.
Sementara itu, Pembina Yayasan LombokCare, Mindie Melanie Schreurs, menjelaskan hingga tahun 2025 LombokCare telah memberikan layanan kepada lebih dari 400 anak melalui program rehabilitasi, pendidikan, dan penanganan clubfoot di berbagai wilayah Pulau Lombok.
Menurutnya, peringatan 14 tahun LombokCare menjadi momentum untuk memperluas jangkauan pelayanan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai mitra.
“Hari ini bukan hanya wisuda, tetapi juga perayaan perjuangan anak-anak, orang tua, relawan, tenaga kesehatan, guru, dan semua pihak yang telah berjalan bersama selama ini,” ujarnya.
Suasana haru turut mewarnai acara ketika Alma Tiana, lulusan pertama SLB Pelangi LombokCare, membagikan kisah perjuangannya. Alma yang sebelumnya hanya mampu terbaring kini berhasil menyelesaikan pendidikan di jenjang SMALB, aktif menekuni olahraga boccia, bahkan pernah mewakili NTB pada ajang nasional.
“Dulu Alma cuma bisa berbaring. Sekarang Alma bisa bermain, belajar, tampil di panggung, bahkan mewakili NTB bertanding. Semua anak di sini hebat dan punya masa depan,” ujar Alma di hadapan Ketua Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SLB Provinsi NTB Winarna, Kepala SLB Pelangi Nurul Hayat, serta para orang tua dan wali siswa yang turut hadir memeriahkan acara.


Komentar