Dompu, Radardemokrasi.com – Jumat, 24 Juli 2026, halaman PAUD SKB Dompu menjadi ruang lahirnya sebuah ikrar yang tak sekadar diucapkan, tetapi diharapkan tumbuh menjadi karakter. PAUD SKB Dompu menggema sebagai pesan bersama bahwa tidak ada ruang bagi bulian di sekolah maupun di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Deklarasi Anti Bullying ini menjadi pengingat bahwa luka akibat ejekan, hinaan, maupun tindakan merendahkan tidak hanya menyisakan air mata, tetapi juga dapat menghilangkan rasa percaya diri seorang anak. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini, saat hati mereka masih bening dan mudah menerima nilai-nilai kebaikan.
Suasana kegiatan berlangsung hangat. Anak-anak mengikuti rangkaian deklarasi dengan penuh semangat didampingi guru dan orang tua. Mereka mengangkat tangan, mengucapkan janji untuk saling menghormati, saling menyayangi, serta menolak segala bentuk perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Sejumlah orang tua murid turut memberikan dukungan penuh terhadap gerakan tersebut. Orang tua murid di Lingkungan Ginte, Kelurahan Kandai II, menyatakan bahwa pembentukan karakter anak tidak cukup hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi harus dimulai dari rumah dengan memberi teladan dalam bertutur kata dan bersikap.
Dukungan serupa juga datang dari orang tua murid di Lingkungan Balibunga, Kelurahan Kandai II, yang berharap budaya saling menghargai menjadi kebiasaan anak-anak hingga dewasa.
Deklarasi ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat agar tidak menganggap bulian sebagai candaan biasa. Setiap kata yang melukai dapat meninggalkan bekas yang panjang. Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, ramah, dan penuh kasih sayang.
Melalui gerakan ini, PAUD SKB Dompu mengirimkan pesan tegas: melawan bulian bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama. Sebab masa depan yang kuat selalu lahir dari anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, penghormatan, dan keberanian untuk berkata, tidak pada bulian.
Pesan deklarasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan sekolah, keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh warga agar setiap anak tumbuh tanpa rasa takut, diskriminasi, maupun perundungan dalam kehidupan sehari-hari.


Komentar