Internasional
Beranda / Internasional / Sayyed Mojtaba Khamenei Serukan Perlawanan terhadap Invasi Budaya AS

Sayyed Mojtaba Khamenei Serukan Perlawanan terhadap Invasi Budaya AS

Warga Iran mengibarkan bendera Iran dalam demonstrasi di Lapangan Revolusi Islam di Teheran, Iran (AlMayadeen)
Warga Iran mengibarkan bendera Iran dalam demonstrasi di Lapangan Revolusi Islam di Teheran, Iran (AlMayadeen)

TEHERAN, Radardemokrasi.com – Di tengah kecamuk ketegangan militer yang melanda kawasan Timur Tengah, Pemimpin Iran Sayyed Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa pertahanan negara tidak hanya dilakukan di garis depan medan perang, melainkan juga melalui penjagaan identitas budaya.

Dalam peringatan Hari Apresiasi Bahasa Persia, ia menyerukan rakyatnya untuk bersiap menghadapi apa yang disebutnya sebagai “invasi budaya dan gaya hidup Amerika Serikat”.

Pesan ini menggarisbawahi bahwa bahasa dan sastra nasional merupakan pilar utama dalam menjaga kedaulatan serta independensi peradaban Iran.

Melansir laporan Al Mayadeen English, Jumat (15/5/2026), Sayyed Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan khusus dalam rangka memperingati jasa penyair legendaris Abolqasem Ferdowsi.

Menurutnya, Bahasa Persia bukan sekadar alat komunikasi lisan dan tulisan, melainkan instrumen kognisi yang mengikat benang merah identitas seluruh masyarakat Iran.

Konflik Memanas: Iran Gempur Kapal Induk AS di Selat Hormuz, Trump Tebar Ancaman Nuklir

Bahasa Persia adalah cetakan kognisi dan benang merah pemikiran serta batas identitas masyarakat Iran”, ungkap Sayyed Mojtaba Khamenei.

Ia juga mengingatkan kembali amanat dari mendiang Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Sayyed Ali Khamenei, yang menegaskan bahwa penguatan Bahasa Persia merupakan cahaya penuntun bagi otoritas peradaban Islam-Iran di kancah global.

Dalam pidatonya, Sayyed Mojtaba mengaitkan situasi konflik bersenjata yang dihadapi Iran saat ini yang disebutnya sebagai ‘Pertahanan Suci Ketiga’ dengan kisah-kisah kepahlawanan dalam kitab epik Shahnameh karya Ferdowsi.

Ia menilai ketahanan nasional rakyat Iran membuktikan bahwa kisah mitologi tersebut telah menjelma menjadi realitas karakter kepahlawanan masyarakat dalam melawan agresor.

Konsep-konsep kesatriaan berbasis Al-Qur’an dalam Shahnameh dinilai berhasil menyatukan seluruh kelompok etnis di Iran untuk menjaga keaslian budaya serta bergerak bersama melawan kekuatan penindas yang ia ibaratkan seperti tokoh tiran “Zahhak”.

Bentrokan Militer AS dan Iran Pecah di Selat Hormuz, Ancaman Perang Terbuka Meningkat

Menutup pernyataannya, Sayyed Mojtaba Khamenei memberikan mandat besar kepada para pekerja budaya, seniman, dan sastrawan di Iran untuk bangkit layaknya Ferdowsi di era modern.

Perlawanan yang gigih terhadap tekanan global dipandang telah mematangkan kesiapan bangsa Iran untuk membentengi kemandirian peradaban mereka.

“…mempersiapkan [bangsa] untuk melindungi independensi peradaban dan menghadapi invasi linguistik, budaya, dan gaya hidup Amerika”, pungkasnya sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *