Mataram, Radardemokrasi.com – Sekolah Rakyat NTB menjadi wajah baru upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan. Program ini membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memperoleh hak belajar yang selama ini sulit mereka jangkau.
Komitmen itu terlihat saat Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mengunjungi Sekolah Rakyat NTB Dasar 4 Lombok Barat, Selasa (30/6). Kunjungan dilakukan setelah menghadiri kegiatan pencegahan stunting di Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari.
Sinta didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi NTB Windi Marlini Abul Chair dan Kepala Dinas Sosial dan P3A NTB Ahmad Mashuri.
Di sekolah tersebut, Sinta meninjau ruang belajar, berdialog dengan kepala sekolah serta guru mengenai perkembangan peserta didik, layanan pendidikan, hingga tantangan mendampingi anak-anak dengan latar belakang sosial yang berbeda. Sekolah Rakyat NTB dinilai menjadi ruang kedua bagi anak-anak yang sebelumnya putus sekolah bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal.
Kepala Sekolah Lilik Fadillah mengatakan, sekolah saat ini membina 88 siswa dari kuota 100 peserta didik. Sebagian besar berasal dari keluarga miskin ekstrem. Salah satu siswa berusia 11 tahun baru pertama kali bersekolah, namun telah menghafal tujuh juz Al-Qur’an sehingga memperoleh pembinaan sesuai kemampuannya.
Prestasi juga mulai lahir dari Sekolah Rakyat NTB. Seorang siswa berhasil menjadi finalis Olimpiade Matematika tingkat nasional yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB), sekaligus menjadi satu-satunya wakil Sekolah Rakyat dalam ajang tersebut.
Ahmad Mashuri menjelaskan penerimaan siswa dilakukan melalui asesmen Kementerian Sosial dengan sasaran keluarga desil satu dan dua. Tahun ajaran baru dibuka sekitar 60 kursi. Sementara ini kegiatan belajar memanfaatkan gedung SKB Gunungsari sebelum pembangunan sekolah permanen di Kuripan direalisasikan. Sekolah Rakyat NTB diharapkan terus melahirkan generasi tangguh, sedangkan Sekolah Rakyat NTB menjadi simbol bahwa kemiskinan bukan penghalang meraih masa depan.
Pemerintah berharap kolaborasi seluruh pemangku kepentingan memperkuat keberlanjutan program ini sehingga semakin banyak anak rentan memperoleh pendidikan bermutu, membangun karakter, serta mengubah masa depan keluarganya.


Komentar