DOMPU, Radardemokrasi.com -Kabupaten Dompu selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung jagung terbesar di Nusa Tenggara Barat. Hamparan lahan jagung membentang luas dari Pekat, Kempo, Manggelewa, Woja, Dompu, Pajo hingga Huu. Membuktikan jagung Dompu melimpah.
Produksi terus meningkat dari tahun ke tahun dan menjadi kebanggaan daerah. Namun di balik angka produksi yang tinggi itu, tersimpan ironi yang tidak kecil.
Jagung Dompu melimpah, petani terjerat modal bank saat KUR seret bukan sekadar judul tajam, tetapi mulai menjadi gambaran nyata kondisi pertanian rakyat di lapangan.
Di banyak desa, jagung bukan lagi sekadar hasil pertanian musiman.
Jagung telah menjadi sumber utama penghidupan masyarakat. Dari hasil panen, warga membangun rumah, membiayai sekolah anak, membeli kendaraan, hingga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan, Jagung Dompu melimpah, petani terjerat modal bank saat KUR seret karena banyak petani belum memiliki kekuatan modal mandiri untuk membiayai musim tanam mereka sendiri.
Ketika dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) terlambat cair, tidak sedikit petani memilih menunda musim tanam.
Modal untuk membeli benih, pupuk, pestisida, membayar ongkos traktor, hingga biaya panen tidak sedikit.
Dalam situasi seperti itu, musim tanam tidak lagi hanya ditentukan oleh hujan atau kesiapan lahan, tetapi juga oleh cair atau tidaknya kredit bank.
Di titik inilah ironi pertanian Dompu terlihat jelas: Jagung Dompu melimpah, petani terjerat modal bank saat KUR seret.
Di satu sisi, KUR memang membantu petani keluar dari jeratan rentenir dan tengkulak.
Akses modal menjadi lebih terbuka, bunga lebih ringan, dan pembayaran lebih jelas. Namun di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar juga menciptakan risiko baru.
Petani akhirnya masuk dalam siklus tahunan yang terus berulang: pinjam, tanam, panen, bayar utang, lalu pinjam lagi. Jika panen gagal, harga jagung jatuh, atau cuaca buruk datang, cicilan tetap harus dibayar.
Utang tidak ikut gagal panen.
Karena itu, Jagung Dompu melimpah, petani terjerat modal bank saat KUR seret harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah.
Sebab keberhasilan pertanian bukan hanya soal tonase jagung yang keluar dari ladang, tetapi seberapa kuat petani bisa berdiri dengan modal sendiri, terlindungi saat gagal panen, dan hidup tanpa terus bergantung pada utang setiap musim tanam tiba. (Nas)


Komentar