Ekonomi
Beranda / Ekonomi / TPID NTB Perkuat Jurus Redam Inflasi Jelang Maulid

TPID NTB Perkuat Jurus Redam Inflasi Jelang Maulid

Rapat Koordinasi Gabungan (Foto: SB)
Rapat Koordinasi Gabungan (Foto: SB)

Sumbawa, Radardemokrasi.com – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB bersama TPID Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat menggelar rapat koordinasi gabungan, Sabtu (22/8). Forum itu menjadi langkah antisipatif menjaga harga tetap terkendali sekaligus memastikan pasokan pangan tidak tersendat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Rakor dipimpin Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri di Lantai 3 Kantor Bupati Sumbawa, setelah peninjauan Pasar Seketeng dan peresmian Toko Basamula.

Pembahasan difokuskan pada dinamika harga, rantai pasok antarwilayah, serta potensi kenaikan permintaan komoditas menjelang peringatan Maulid Nabi di Pulau Lombok.

Wagub menegaskan inflasi bukan angka yang bisa dibiarkan bergerak tanpa pengawasan. Menurut dia, kondisi harga bersifat dinamis sehingga intervensi harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Sumbawa masih dalam angka cukup stabil. Tetapi tentunya inflasi bukan suatu angka yang tetap,” kata Indah. Ia menekankan tujuan intervensi adalah menjaga stabilitas agar harga tidak terganggu oleh perubahan pasokan maupun permintaan.

Toko Basamula Sumbawa Jadi Pengendali Harga Pangan

Posisi Sumbawa sebagai salah satu lumbung pangan NTB turut menjadi perhatian. Pemerintah provinsi bersama Bulog dan mitra terkait telah memperhitungkan distribusi pangan dari Pulau Sumbawa untuk memenuhi kebutuhan wilayah Lombok saat permintaan meningkat.

Persoalan lain yang mengemuka adalah kelangkaan LPG 3 kilogram. Indah mengatakan kebutuhan LPG bersubsidi masih penting bagi masyarakat, termasuk petani dan peternak yang membutuhkan mobilitas serta akses energi untuk aktivitas sehari-hari.

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menyambut baik rakor tersebut. Ia menilai penanganan inflasi seharusnya dimulai dari pemantauan lapangan, bukan sekadar rapat setelah persoalan muncul.

Menurut Jarot, inflasi rendah harus dipertahankan dengan mitigasi pasokan yang lebih tajam. Perubahan cuaca, distribusi, dan ketersediaan komoditas dapat memengaruhi harga dalam waktu singkat.

Karena itu, TPID didorong mengenali lebih awal komoditas yang berpotensi naik serta daerah yang mulai mengalami gangguan pasokan. Pola antisipatif dinilai lebih efektif daripada menunggu gejolak harga membesar.

Bapenda NTB Bahas Kerja Sama Perbankan dengan BRI

Rakor dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Hario Kartiko Pamungkas, Kepala Kanwil Bulog NTB Mara Kamin Siregar, Kepala BPS NTB Wahyudin, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot, serta jajaran TPID.

Pertemuan ditutup dengan komitmen memperkuat koordinasi berkala antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, dan instansi terkait. Targetnya jelas: pasokan aman, harga terjangkau, dan masyarakat NTB tidak menjadi penanggung beban ketika permintaan pangan melonjak.

Langkah ini menjadi pagar awal menghadapi gejolak harga pangan.

Pengawasan harga juga perlu dilakukan secara konsisten hingga pasar. Koordinasi lintas wilayah menjadi kunci agar distribusi pangan tetap bergerak cepat.

Sembalun Dorong Swasembada Bawang Putih Nasional 2028

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *