Internasional
Beranda / Internasional / Trump Buang Barang China: Protokol Anti-Sadap AS di Beijing

Trump Buang Barang China: Protokol Anti-Sadap AS di Beijing

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan menuju ruang jamuan makan malam di Balai Besar Rakyat. (Foto: Antara)
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan menuju ruang jamuan makan malam di Balai Besar Rakyat. (Foto: Antara)

WASHINGTON, Radardemokrasi.com – Sebuah pemandangan tidak biasa sekaligus mencengangkan terjadi di bandara Beijing sesaat sebelum rombongan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, lepas landas kembali menuju Washington.

Seluruh barang, suvenir, hingga perangkat yang diperoleh delegasi AS selama kunjungan di China dilaporkan langsung dibuang ke tempat sampah tepat di bawah tangga pesawat kepresidenan Air Force One.

Langkah ekstrem ini diambil diduga kuat demi menghindari potensi risiko spionase dan penyadapan oleh intelijen Beijing.

Melansir laporan investigasi dari berbagai sumber, Senin (18/5/2026), informasi mengejutkan ini pertama kali diungkap oleh jurnalis senior The New York Times, Emily Godin, melalui akun media sosial X pribadinya.

Godin yang ikut dalam penerbangan kepresidenan menyaksikan langsung bagaimana staf Gedung Putih mengumpulkan berbagai benda yang didapatkan selama kunjungan sebelum mereka menaiki pesawat pada Jumat, 15 Mei 2026.

Sayyed Mojtaba Khamenei Serukan Perlawanan terhadap Invasi Budaya AS

Barang-barang yang wajib dibuang dan dilarang keras masuk ke dalam kabin Air Force One antara lain, kartu identitas dan lencana delegasi, telepon genggam sekali pakai, cendera mata dan barang pemberian lainnya.

Laporan Godin tersebut kemudian dikonfirmasi kebenarannya oleh sejumlah wartawan Gedung Putih lainnya yang turut berada di lokasi kejadian.

Meski bagi masyarakat awam tindakan ini terkesan kurang sopan, para pengamat menyebut bahwa aksi buang barang tersebut merupakan bagian dari prosedur standar operasional (SOP) keamanan tingkat tinggi Amerika Serikat.

Protokol ketat ini wajib diterapkan setiap kali presiden atau pejabat tinggi AS melakukan kunjungan kenegaraan ke negara-negara yang dinilai bukan merupakan sekutu strategis utama Washington, salah satunya adalah China.

Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menangkal penyisipan alat penyadap miniatur atau perangkat lunak berbahaya (malware) yang bisa mengancam keamanan nasional AS.

Konflik Memanas: Iran Gempur Kapal Induk AS di Selat Hormuz, Trump Tebar Ancaman Nuklir

Ironisnya, aksi “bersih-bersih” barang ini terjadi tepat setelah Donald Trump menyelesaikan agenda diplomasinya yang berjalan sangat mulus dan hangat sejak Rabu pekan lalu.

Selama di Beijing, Trump bahkan mendapatkan sambutan karpet merah yang sangat mewah serta jamuan makan malam khusus dari Presiden China, Xi Jinping, dalam rangkaian pertemuan bilateral kedua negara.

Namun, urusan diplomasi tetaplah diplomasi, dan bagi Dinas Rahasia (Secret Service) serta tim keamanan Gedung Putih, kewaspadaan terhadap potensi mata-mata adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *